Kreativitas dalam Sepakbola (Bagian 2)

5. Kreativitas taktik dalam olahraga tim

8-martindale-1981-memmert-2007
Martindale (1981) oleh Memmert 2007.

Semakin seseorang mampu berfokus ke banyak elemen secara simultan, semakin berpotensi dirinya untuk mendapatkan lebih banyak ide kreatif. Sederhananya, semakin seorang pemain sepakbola mampu mengakses dan melibatkan dirinya ke dalam lebih banyak permasalahan serta solusi taktis, semakin tinggi kemungkinan bagi dirinya untuk mendapatkan lebih banyak ide kreatif dan melakukan aksi kreatif ke depannya.

Daniel Memert – figur terdepan untuk penelitian di bidang sepakbola – melakukan sebuah tes yang bertujuan untuk mengukur pengaruh attention-broadening program dan narrow-breadth program terhadap breadth of attention dalam grup pelatihan (olahraga tim) anak-anak. Tes yang dilakukan Memert bertujuan untuk melihat pengaruh dua program tersebut terhadap performa kreatif dalam tes dengan dua level kompleksitas berbeda – kompleksitas sederhana dan kompleksitas kompleks.

Dalam grup attention-broadening:

  • Pelatih adalah memimpin sesi pelatihan dan menjelaskan ide permainan/latihan dan peraturan latihan.
  • Pelatih tidak memberikan nasihat/instruksi taktik juga tidak memberikan masukan selama sesi latihan. Tujuannya, untuk membiarkan anak untuk mendapatkan sebanyak mungkin stimulus, baik relevan maupun tidak, dalam situasi taktis yang kompleks.

Dalam grup narrow-breadth:

  • Pelatih memimpin dan memberikan instruksi taktik yang eksplisit, spesifik, dan penuh dengan koreksi (menurut interpretasi pelatih) untuk setiap reaksi/aksi anak dalam semua tipe dan sesi pelatihan.

Para partisipan diberikan pelatihan selama 6 bulan. Tes dilakukan dua kali, yaitu sebelum dan pasca pelatihan. Hasilnya, sesuai hipotesis pra-pelatihan, grup attention-broadening merupakan grup yang mengalami perbaikan signifikan dalam peforma kreatif. Grup attention-broadening mengalami peningkatan sampai ± 51% dan grup narrow-breadth mengalami perbaikan sebanyak ± 7,7 %. Penelitian ini memperlihatkan pelatihan berkelanjutan berdasarkan pendekatan pemberian instruksi – attention-broadening dan attention-narrowing – memiliki pengaruh besar dalam mempengaruhi prilaku kreatif pemain dalam olahraga tim yang kompleks.

Dalam kesimpulannya, Memmert berpendapat kreativitas taktik dapat dikembangkan berdasarkan model-model tertentu. Teori ini, pada gilirannya, bila digabung dengan berbagai penelitian yang dilakukan oleh Memmert sendiri, membawa Memmert kepada sebuah model – sebuah kerangka kerja – yang kontennya, secara teoritis, dapat digunakan sebagai dasar-dasar untuk mengembangkan kreativitas taktik.

9-pengembangan-kreativitas-taktik
Model pengembangan kreativitas taktik

(Memert, 2011) mengatakan, “…On a micro level, there are three mechanisms that facilitate unexpected and original solutions:

  • By using fewer instructional options to focus attention in team ball sports (inattentional blindness, micro rule 1), and
  • By giving no external attention cues which point out ‘information rich areas’, the attention is not restricted and thereby facilitate creative behavior (micro rule 2);
  • With a large breadth of attention (micro rule 3) unexpected and potentially better alternative solutions can be perceived, used, and hence learned.

 Micro-level – bisa dilihat dalam bagan di atas – merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas taktik. Sementara macro-level merupakan faktor-faktor yang mendukung kreativitas taktik.

 5.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas taktik

https://www.youtube.com/watch?v=z-Dg-06nrnc
Salah satu video yang digunakan dalam penelitian Memmert. Menarik, bukan?

Inattentinal-blindness merupakan sebuah kondisi, ketika perhatian seseorang difokuskan/diarahkan ke satu titik/aksi, yang akan terjadi adalah, orang tersebut tidak akan menyadari/mendeteksi/melihat unexpected-object – objek yang kemunculannya tidak diduga sebelumnya – walaupun objek tersebut tampil begitu masif di depan mata. Video di atas merupakan salah satu contoh paling sederhana inattentional-blindness yang ditimbulkan oleh instruksi eksplisit yang menyempitkan fokus seseorang.

Paradigma inattentional-blindness, disadari atau tidak oleh para pelatih dan pemain, memainkan peran penting dalam produksi solusi kreatif. Praktik overload demi mendapatkan kesempatan memainkan umpan orang ketiga merupakan salah satu usaha mengalihkan perhatian lawan dalam menciptakan “pemain bebas” di dalam ruang/area strategis. Mengalihkan perhatian lawan merupakan sebuah usaha untuk memicu inattentional-blindness di tim lawan.

10-umpan-orang-ketiga-3rd-man-passing
Umpan orang ketiga. No. 6 sebagai 3rd man runner. Pertukaran posisional antara 2 dengan 7, lalu pertukaran di antara 8, 10,  dan 6 – yang menjadi orang ketiga – merupakan usaha tim biru untuk mengalihkan perhatian lawan demi mengeksploitasi ruang antarlini tim kuning.

Dalam tes lin yang dilakukan untuk menguji focus of attention (Breadth of Attention, Inattentional Blindness, and Decision Making in Complex Situations in Team Sports) didapatkan kesimpulann,“Players do not find creative tactical solutions if they receive attention-directed instructions, because of their reduced attention focus.” (Memmert 2011). Akibat diberikan  instruksi langsung (eksplisit) yang mengarahkan (attention-directed instruction) fokus partisipan, 45% dari subjek gagal mengidentifikasi rekan setimnya yang berdiri bebas di area strategis. Memmert melanjutkan teorinya dengan mengatakan, “… That means that instructions that give a narrow focus, for example, just mark a player, lead to players not seeing as many creative opportunities as when instructions are less specific”.

Bila ditelaah lagi, attention-directed instruction yang dikatakan dalam tes ini, dalam dunia praktis nyata, bisa dikatakan sebagai instruksi “salah” dari pelatih kepada pemain.

Breadth of attention. Ini merupakan sebuah istilah yang oleh Memmert didefinisikan sebagai, “…to refer to the number and range of stimuli that a subject attends to at any one time.”(Memmert 2011). Memmertmelakukan tes terhadap 34 pemain (remaja) bola tangan yang dibagi ke dalam dua grup.

  • Dalam grup attention-narrowing (ANG), partisipan menerima dua instruksi eksekusi. Instruksi pertama, kalau bek lawan maju mendekat, lakukan feint (tipuan) sebelum melempar bola ke gawang. Yang kedua, kalau bek lawan tetap pada posisi bertahannya, dekati dan melompatlah untuk melempar bola ke gawang. Hasilnya, 17% partisipan mampu mengidentifikasi dan memanfaatkan kehadiran rekan setim yang berdiri bebas (free-player) di samping bek lawan.
  • Dalam grup attention-broadening (ABG), semua opsi eksekusi diserahkan kepada partisipan. Instruktur tidak memberikan instruksi spesifik. Targetnya sama, partisipan harus mencetak gol ke gawang. Hasilnya, 83% partisipan mampu mengidentifikasi dan memanfaatkan kehadiran rekan setim yang berdiri bebas di samping bek lawan.

Dengan instruksi yang bersifat narrow-breadth, tidak semua stimulus dan informasi yang dapat memicu solusi kreatif dapat diterima. Sebaliknya, dengan instruksi yang bersifat wide-breadth, respon lebih baik didapatkan ketika partisipan diharapkan mampu mengakses lebih banyak stimulus dan informasi.

Salah satu metode yang tepat untuk mempraktikan konsep wide-breadth adalah, berlatih dalam sebuah lingkungan yang game-like situation – seperti pertandingan sesungguhnya – di mana latihan didasarkan pada model-permainan (taktik), dengan kompleksitas (intensitas, luasan, jumlah pemain, dll) yang disederhanakan, peraturan (target) yang tegas, tanpa mengekang pemain melalui instruksi yang dapat membatasi eksekusi, dan pemberian reward (poin) sebagai penanda keberhasilan pemain menyelesaikan setiap target. Pemain dilatih secara implisit untuk mencapai level komunikasi yang diharapkan.

5.2. Faktor-faktor yang mendukung kreativitas taktik.

Dalam macro-level, didapatkan diversification, deliberate-play, deliberate-practice, dan deliberate-coaching.

Memmert melakukan penelitian panjang selama 15 bulan (tes pra-pelatihan dan tes pasca pelatihan) yang hasilnya bisa menjadi pertimbangan dalam menyusun program latihan kepada anak-anak (U7 sampai U14). Dasar teori yang menjadi pegangan penelitian ini, adalah “… Unpublished studies by the second author show that gathering games experience in several different sports games is an ideal medium for the creative development of players. Children still profit from the varied experiences and perceptions of situations in sports games gathered during their childhood” (Baker, Coˆ te´, & Abernethy, 2003 seperti yang disebutkan oleh Memmert 2007).

Pengalaman bermain atau berlatih dalam beberapa olahraga yang berbeda merupakan media ideal dalam perkembangan kreatifitas taktik anak-anak (Memmert, 2006). Pengalaman yang beragam memberikan keuntungan banyak bagi anak-anak. Perkembangan kreativitas sangat mungkin terjadi, terutama apabila olahraga-olahraga yang mereka lakukan memiliki kesamaan taktis walaupun eksekusinya (keterampilan motorik) beragam. “In our experience the best novice soccer players are those with experience of field hockey, ice hockey, basketball or other team ball sports, because these players already understand the spatial aspects of soccer. Tactically these games are similar even though the skills used are completely different.” (Griffin et al., 1997, seperti yang disebutkan Memmert 2007).

Memmert, bersama Klaus Roth, melakukan tes untuk mempelajari efek dari specific-concept dan non-specific concept terhadap perkembangan kreativitas taktik anak-anak usia 7 tahun. Hasilnya, anak-anak yang dilatih menggunakan specific-concept, memperlihatkan perbaikan signifikan di bidang olahraga yang memang secara spesifik diajarkan dan dikompetisikan untuk mereka (spesifik sepakbola, spesifik hoki es, dan spesifik bola tangan).

Sementara, melalui pelatihan non-specific concept, hasil penelitian Memmert dan Roth memperlihatkan bahwa anak-anaka yang mendapatkan pelatihan non-specific sepakbola (60% sepakbola, 20% hoki, 20% bola tangan), tetap mencatatkan perbaikan nilai kreativitas taktik dalam hoki es dan bola tangan. Anak-anak yang mendapatkan pelatihan non-specific hoki es juga mencatatkan perbaikan nilai kreativitas taktik dalam bola tangan.

Saat membandingkan antara efek yang ditimbulkan dari pelatihan specific dan non-specific, kedua konsep ini memiliki efek (positif) yang sama terhadap perkembangan kreativitas anak-anak dalam olahraga tim. Hanya saja, dengan konsep pelatihan yang lebih universal, konsep non-specific bisa berefek lebih besar dalam jangka panjang bagi anak-anak.

Dalam deliberate-practice, sebuah latihan dipusatkan kepada peraturan/target spesifik dengan struktur yang didesain sedemikian rupa mengacu kepada target. Yang harus digaris bawahi dari paradigma deliberate-practice, adalah “… deliberate environmental influences and organizational conditions benefit the generation of original thinking in sport.” (Memmert, Roth, 2011).

Deliberate-play mengacu kepada permainan yang dilakukan tanpa instruksi dan tanpa struktur terencana (more unstructured). Partisipan dibiarkan bermain sesuai keinginan mereka, bebas mengekspresikan kemampuannya (keputusan dan eksekusi). Anda pernah merasa terlibat di dalamnya? Kalau Anda menghubungkan deliberate-play dengan sepakbola jalanan, Anda benar belaka!! Varreland, melalui model motivasinya menegaskan, “… that early deliberate play will have a positive effect on intrinsic motivation over time”. Sebuah teori menarik bagi Anda yang berfokus dalam sepakbola anak-anak.

Paradigma deliberate-play, tentu saja, di satu sisi, kontradiktif dengan “aturan main” di sepakbola profesional level senior. Dalam level senior level top, bermain bebas tanpa instruksi tentu saja bukan sesuatu yang direkomendasikan. Ada taktik yang menjadi pemandu dan “pembatas” (constraint). Ini menjadi tantangan bagi pelatih level senior, yaitu menerapkan taktik yang tetap mampu memfasilitasi kreativitas taktik pemain didukung oleh instruksi taktik yang tepat-guna.

Untuk deliberate-coaching, Anda bisa membaca ulasannya dalam poin 5.1 di atas, di bagian breadth of attention – yang termasuk dalam micro-level yang mempengaruhi kreativitas -. Singkatnya, instruksi/masukan yang bersifat wide-breadth lebih berefek positif terhadap kreativitas taktik ketimbang instruksi yang narrow-breadth.

 Berdasarkan model 3×4 di atas, dapat dikatakan, latihan dengan situasi dan bentuk seperti pertandingan sesungguhnya (game-form training) tanpa instruksi terindikasi lebih efektif. Temuan ini mengarahkan kita pada rekomendasi Tactical Creativity Approach (TCA) 6-d ala Daniel Memmert.

11-tca-6-d-daniel-memmert
6-D
TCA ala Daniel Memmert. Dari jurnal Tactical Creativity in Team-Sport, 2014.

6. Kreativitas taktik dalam latihan sepakbola

Seperti yang dideklarasikan di poin 4 (Antara TGfU dan tactical-periodization), tactical-periodization (periodisasi taktik) merupakan metode latihan yang sangat mampu memfasilitasi pelatihan menghasilkan pemain-pemain yang memiliki kecerdasan dan kreativitas taktik memadai. Kenapa? Karena, mengacu kepada definisi kreativitas yang mana mengandung makna relevan/tepat/berguna, periodisasi berangkat dari ke-supradimensional-an taktik yang pada gilirannya menjadi acuan latihan-latihan yang ditujukan demi menghasilkan pemain yang kaya akan aksi/solusi kreatif.

Ada panduan/batasan yang harus dipahami pemain ketika mereka berusaha melakukan aksi kreatif. Ada taktik di sana. Ada “aturan main” yang tidak boleh dilanggar. Pep Guardiola termasuk sangat kaku dalam praktiknya. Testimoni Henry di Monday Night Football, bisa mewakili bagaimana Pep begitu kaku terhadap disiplin taktik. Hal yang berbeda bila Anda membandingkannya dengan Arsene Wenger atau Zinedine Zidane, misalnya, yang tampak lebih membebaskan pemain-pemainnya mengekspresikan kreativitas taktik, terutama dalam fase menyerang di separuh pertahanan lawan.

Bila mengacu kepada TGfU, pendekatan-pendekatan yang ditawarkan Memmert melalui 6-D TCA, dan prinsip-prinsip dalam periodisasi taktik, salah satu konsep yang mampu memfasilitasi menciptakan-taktik-sebagai-acuan bagi aksi/solusi kreatif para pemain adalah, mendesain model permainan dan mensosialisasikannya melalui latihan, dalam periodisasi harian yang mana setiap latihan terpusat pada target/tugas dengan spesifikasi yang kontekstual model permainan.

12-mycrocycle-tactical-periodization
Mycrocycle, diadaptasi dari Tamarit.

Dalam periodisasi, pelatih dipandu untuk mampu menciptakan latihan dengan intensitas yang dan volum yang spesifik. Mulai dari passive-recovery, active-recovery, lalu memasuki sesi paling intens (mengacu pada mycrocycle 1 pekan 1 pertandingan), dan sampai hari H, pelatih harus memastikan pengaturan intensitas yang tepat yang mana setiap sesi latihan (harian) selalu memiliki tujuan/target serta mengacu kepada model permainan.

Sederhananya, berlatihlah dalam lingkungan yang mereplikasi (semaksimal mungkin) situasi pertandingan sesungguhnya. Mereplikasi sistem pressing lawan semirip mungkin, prediksikan seberapa banyak situasi-situasi semacam ini akan terjadi (Guntur Utomo, 2017), lalu masukan ke dalam lingkungan latihan di mana pemain harus dapat menaklukannya sesuai target spesifik taktik yang ditetapkan pelatih. Yang perlu diperhatikan, adalah, sebagai pelatih, tetapkan aturan main, tetapkan apa target spesifik pemain, apa reward (poin) ketika (grup) pemain mampu memenuhi target, dan biarkan para pemain menemukan solusi terbaik untuk mencapai target. Beberapa ide reward:

  • “Tim menyerang” mendapatkan 1 poin jika berhasil menciptakan gol ke gawang kecil;
  • Umpan yang mencerminkan konsep orang ketiga menghasilkan 1 poin; atau
  • “Tim bertahan” mendapatkan 2 poin jika berhasil menciptakan gol dari jarak minimal, yang ditentukan tim pelatih, ke gawang “tim menyerang”.

Contoh, H+2 periodisasi bisa digunakan untuk mengevaluasi kekurangan di uji-tanding yang baru saja dilalui. Karena salah satu titik di mana kelemahan taktik teridentifikasi adalah, koneksi antara para pemain dalam fase konstruktif ketika mencoba berprogres melalui tepi lapangan, diberikanlah latihan 4+1v2 diberikan. Yang mana spesifikasi latihan adalah memperbaiki koneksi antara no. 4, no.5, no. 8, no. 10 – ketika meng-overload zona 4 dan 7 dan mendapatkan pressing dari lawan – demi mendapatkan progresi yang “bersih” kepada pemain terjauh/terdepan di zona 10 atau 13.

Menghindari technical individual/group isolated-training (latihan eksekusi teknis terisolasi) yang tidak spesifik terhadap model permainan – menjadi opsi ideal dalam mengembangkan kreativitas taktik. Tentu saja, untuk selalu diingat, pelatih perlu mendesain latihan beserta penyederhanaan kompleksitasnya, sehingga, para pemain bukan hanya mendapatkan latihan yang kontekstual terhadap taktik tetapi sekaligus mampu merangkul wilayah kognitif, eksekusi, dan daya tahan. Dengan ini, pemain mendapatkan knowledge yang memadai selama diberikan latihan. Penyederhanaan kompleksitas merupakan elemen yang sangat krusial dalam periodisasi. Penyederhanaan dapat menghindarkan pemain dari over-trained (dilatih berlebihan) yang pada gilirannya menyebabkan lelah otak yang menjadi faktor timbulnya cidera.

Melalui small-sided game (SSG) atau permainan grup kecil, pelatih bisa mendesain latihan dengan fokus spesifik. Apakah mengurangi jumlah pemain dari 5v5 ke 3v3 demi membidik peningkatan kebugaran, membatasi jumlah sentuhan bola untuk melatih pemain mengembangkan akses penerimaan umpan dan berpikir cepat (speed), atau sebagai bagian dari pemanasan dalam bentuk 6v2.

SSG juga berdampak positif kepada detak jantung. SSG dapat menekan detak jantung pemain ke level lebih rendah. Contoh, 4v4 menghasilkan detak jantung lebih rendah 14-15 beat tiap menit dibandingkan dengan 11v11. Detak jantung lebih rendah berkorelasi positif dengan fokus (konsentrasi). Dengan mengatur (menekan) prosentase detak terhadap detak maksimum, pemain lebih mampu berkonsentrasi dalam menjalankan dan memelihara aksi yang memenuhi kebutuhan spesifik latihan.

Selain itu, mengingat periodisasi menekankan bahwa fokus/konsentrasi-terhadap-target-sesifik-latihan merupakan refleksi level intensitas (sesungguhnya), menjaga detak jantung menjadi sangat beralasan. Sederhananya, detak jantung terjaga = fokus terjaga = intensitas terjaga = berlatih spesifik = kecerdasan dan kreativitas taktik meningkat.

Menurut Gaiteiro, 2006, seperti yang disebutkan oleh Tamarit, sepakbola merupakan sebuah rangkaian yang mana semua keputusan dan aksi merupakan inisiatif dan produksi aktivitas “tak sadar” (unsconcious). Menurut McCrone, 2002, proses “tak sadar” yang memungkinkan manusia bereaksi cepat, tidak lain tidak, adalah automasi (automatism). Dalam tahap automasi aksi, shortcut (jalan pintas) terbentuk, dan mempersingkat waktu (koneksi rangsangan/informasi-otak-aksi motorik) melalui setting stimulus yang spesifik.

Mekanisme sederhananya, ketika otak menjumpai stimulus yang identik (dalam pertandingan) dengan yang ia pernah hadapi/alami (selama berlatih), otak bereaksi “tak sadar” (dan cepat sekali) terhadap stimulus yang identik tersebut. Mekanisme semacam ini membuat otak mengalokasikan waktunya lebih banyak untuk aksi motorik yang lebih kompleks (Jensen, 2002), mengijinkan aksi “tak sadar” untuk mengurus elemen dasar pengambilan keputusan dan eksekusi. Umpan tumit, rabona, no look-pass, atau Zidane’s roullete, merupakan contoh aksi motorik yang kompleks.

Teori ini semakin diperkuat bila kita kembali kepada teori Mednick tentang serendipity, similarity, dan mediation,  yang mana solusi kreatif bisa dipicu keluar oleh sebuah kebetulan menyenangkan (serendipity) di mana kondisi saat ini (pertandingan) memiliki kesamaan dengan situasi-situasi masa lalu (latihan). Sekali lagi, teori ini sesuai dengan apa yang dibuktikan oleh Naissar tentang perilaku manusia yang context-dependant.

Selain dikarenakan periodisasi membuat latihan dan model permainan (taktik) selalu berjalan beriringan, periodisasi dengan konsep intensitas dan volum berinterval, pada dasarnya selaras dengan teori incubation. Dalam periodisasi, ditekankan perlunya recovery dan pengaturan intensitas yang spesifik demi menghindari brain-fatigue (lelah otak). Selain penting untuk meminimalisir potensi cidera, menghindarkan diri dari brain-fatigue mampu membuat pemain untuk terus menjaga mood dan motivation.

Dalam teori incubation, terdapat 6 jenis operasi incubation, yaitu, conscious work; opportunistic assimilation; forgetting inappropriate mental sets; recovery from fatigue; remote association; dan unconscious work. Berdasarkan pandangan periodisasi taktik yang menyarankan istirahat penuh (recovery-passive) pada H+1, recovery from fatigue menjadi model operasi yang paling mengena. Jose Mourinho dan banyak pakar psikologi olahraga tim sepakat bahwa brain-exhausted (jenuh otak) membutuhkan lebih banyak waktu untuk dipulihkan ketimbang muscle-exhausted (jenuh otot). Memberikan istirahat penuh diharapkan mampu menyegarkan otak dan memfasilitasi peningkatan kreativitas taktik.

Bila Anda menelaah lebih dalam masing-masing jenis operasi, bisa dikatakan hanya forgetting inappropriate mental sets yang tidak/kurang relevan dengan sepakbola (perlu dikaji lebih dalam). Teori concious work, opportunistic assimilation, remote association, dan unconscious work memiliki kesamaan pola pikir dengan sepakbola. Karena, dalam berlatih dan bertanding, kita bisa merasakan, bahwa ada kerja sadar (conscious work) dan tidak sadar (unconscious work) otak dalam memahami pergerakan, taktik, formasi, dll. Juga, kita bisa temukan bahwa apa yang diterima otak dalam sesi latihan dapat dikategorikan sebagai elemen asosiatif demi memunculkan solusi kreatif. Yang mana dalam proses kemunculannya, opportunistic assimilation dan remote association memiliki banyak kemiripan.

Yang juga perlu diperhatikan, seperti yang dijelaskan oleh Tory Higgins yang juga disebutkan oleh Memmert dalam jurnalnya, ada keperluan untuk memastikan pemain agar memiliki self-regulation yang promotion-focus (ingat deliberate-motivation, dari pendekatan 6-D ala Memmert). Promotion-focus berfokus kepada penyelesaian/pencapaian tugas/target. Model lain self-regulation adalah prevention-focus yang lebih berfokus kepada safety dan tanggung jawab. Melalui penelitiannya, Higgins (juga direfrensikan oleh Memmert) menyatakan, promotion-focus lebih mendukung produksi solusi taktik yang kreatif ketimbang prevention-focus.

Salah satu cara memicu kemunculan promotion-focus di dalam latihan, adalah menetapkan latihan dengan target spesifik yang jelas sekaligus memberikan reward (poin) bagi pemain/tim yang berhasil memenuhi target spesifik tadi. Dengan reward (penghargaan), pemain berfokus kepada pencapaian target ketimbang sekadar memenuhi tanggung jawabnya untuk terlibat dalam latihan. Metode ini, menurut Tamarit (2014), juga mampu menumbuhkan motivasi (intrinsik).

“If a punishment follows a behavior, it will occur less frequently. Because of the pain and fear that punishment causes, Skinner advocated the use of reinforcers to control behavior. His analysis of creativity followed this principle precisely. Creative behavior could be promoted, he argued, by following it with a reinforcer (Skinner disebutkan oleh Conti dan Amabile, 1999).

Ini kenapa, pelatih juga harus mampu menempatkan pemain dalam sebuah latihan yang secara implisit memberikan efek positif terhadap perasaan dan emosi (feelings and emotions), yang pada gilirannya terbawa (priming) ke dalam aksi-aksi sepakbola yang unconscious (tak disadari).

“… a player realizes and feels good when he behaves according to the principles, subprinciples, and subrinciples of subprinciples of the playing model.” (Freitas seperti yang disebutkan oleh Tamarit). Ujaran ini, secara tidak langsung memiliki kesamaan pola pikir dengan promotion-focus dalam model self-regulatory milik Higgins, bukan?

Pada akhirnya, mendesain sebuah sesi yang sekaligus melatih kecerdasan (level strategis) dan kreativitas (level taktik), sangat mungkin dipraktikan. Berlatih dalam sebuah lingkungan (environment) yang mana titik berat latihan adalah berfokus melatih kreativitas taktik pun sangat mungkin dilakukan.

13-bentuk-small-sided-game-11-v-10
Bentuk konseptual small-sided game 11v10 dengan poin latihan untuk melatih model permainan. Perilaku dalam fase “menyerang” (kuning), perilaku pressing (merah), fase transisional, dan berbagai aspek prinsip dasar level individual.

Konsep bentuk dan spesifikasi latihan di atas adalah kecerdasan pemain (penempatan posisi dalam struktur, okupansi spasial, memberikan dukungan terhadap formasi overload, menjaga compactness, dll). Yang mana, kecerdasan bermain dipicu oleh pendekatan eksplisit mengenai prinsip-prinsip yang dipandnag idel untuk memperkuat strategi tim (struktur, posisi tubuh,dll). Latihan ini juga sekaligus menyentuh area kreativitas taktik (siasat dalam melewati taktik bertahan lawan, bersiasat dalam menemukan celah untuk memainkan konsep orang ketiga, usaha memicu inattentional-blindness di tim bertahan, dll) dalam satu latihan yang sama.

Pemain dimainkan di dalam sebuah lapangan (environment) yang didesain agar pemain tetap menjaga kesadaran akan ruang statis utama, yaitu sayap, half-space, dan tengah (berada dalam koridor vertikal) dan ketiga sepertiga lapangan (yang masuk dalam koridor horisontal). Kisi-kisi – ditandai dengan garis putus-putus – di permukaan lapangan merupakan pembagian lapangan berdasarkan ruang statis yang dimaksudkan.

Lapangan berbentuk oktagonal, secara implisit, ditujukan untuk mem-priming pemain untuk bergerak diagonal baik ketika, berada dalam fase konstruktif di sepertiga awal (melebar) maupun mendekati gawang lawan (menyempit) . Bentuk lapangan juga memiliki dampak psikologis kepada tim bertahan. Dalam bentuk oktagonal, ketika tim menyerang mendekati gawang tim bertahan, para pemain bertahan dilatih untuk melindungi 3 koridor vertikal di tengah demi mendorong lawan menjauh dari gawang, ke tepi lapangan.

Lebih spesifik terhadap pelatihan kreativitas taktik, bisa dilakukan, salah satunya, melalui sebuah latihan dalam lapangan yang lebih kecil, misalnya, disertai pemberian target/tugas spesifik kepada para pemain. Pelatih harus menjelaskan peraturan permainan, latihan dilakukan tanpa instruksi yang bersifat narrow-breadth atau bisa dilakukan tanpa instruksi sekaligus, dan menuntut intensitas fokus otak serta intensitas fisik yang tinggi.

14-contoh-latihan-4v43-kreativitas
Contoh latihan 4v4+3 untuk melatih penciptaan aspek diagonal maupun antisipasi terhadapnya.

Pemain diharuskan banyak melakukan pergerakan tanpa bola dibarengi penciptaan bentuk segitiga maupun berlian. Karena pemain di netral (kuning) koridor sayap dibatasi 1 kali sentuhan bola, secara implisit, koridor half-space dan tengah akan menjadi pilihan utama bagi para pemain dalam melakukan sirkulasi dan progres serangan. Peraturan lain adalah umpan horisontal dapat dilakukan apabila umpan dilakukan dengan satu sentuhan. Dengan ini, pemain diharapkan dan dilatih untuk terus berusaha menemukan jalur diagonal. Di sisi lain, walaupun latihan ini berfokus ke kreativitas taktik, tetapi intensitas (baik fokus otak maupun ketahanan fisik) latihan yang tinggi, membuat mentalitas pemain dalam fase transisonal, stamina, dan eksekusi teknis ikut dilatih.

Latihan merupakan media paling tepat untuk membekali pemain dengan pengetahuan yang mereka butuhkan dalam pertandingan kompetitif. Desain latihan yang tepat (lingkungan, peraturan, target spesifik, saran, interaksi antarpemain) yang mengacu kepada model permainan adalah koentji.

7. Kreativitas taktik dalam sepakbola usia dini

Penyederhanaan latihan dalam usia dini (anak-anak) juga merupakan keharusan. Kesalahan atau tidak melakukan penyesuaian/penyederhanaan dalam praktik sepakbola usia anak-anak = membahayakan masa depan sepakbola si anak. Berbagai penelitian menyebutkan, bahwa kreativitas berkembang dan berakselerasi sangat cepat di usia anak-anak. Kreativitas itu sendiri juga berkembang lebih lambat ketimbang perkembangan dalam aksi motorik, misalnya.

Akan sangat baik, bila anak-anak, selain diberikan latihan berkonsep deliberate-play juga dimainkan di lapangan yang lebih kecil (sesuai kemampuan fisik mereka) dan bertanding dalam kelompok kecil (small sided-game).

Kenapa ini penting? Pertama, deliberate play bisa terus mendorong anak untuk terus termotivasi- dalam jangka panjang diharapkan membentuk motivasi intrinsik yang kuat – sekaligus bergembira. Semua ahli psikologi olahraga sepakat menyebutkan, bahwa kesenangan (pleasure) menjadi elemen yang krusial bagi anak-anak, karena, dengan kesenangan, anak-anak secara otomatis termotivasi untuk terus memberikan yang terbaik. Menurut Fonseca, 2006, seperti yang disebutkan oleh Tamarit, “That period that preceds admission to a club (street football) seems to be fundamental part in the training process of elite players, extreme important in the development of the different qualities of the player.”

Kedua, lapangan yang lebih kecil. Kenapa lapangan yang lebih kecil? Ukuran lapangan harus disesuaikan dengan daya jelajah anak. Dengan ukuran lapangan yang tepat, pelatih sedang memfasilitasi keharusan agar anak-anak lebih banyak menyentuh bola. Dalam Coaching The Tiki-Taka Style of Play, Jed Davies menyampaikan sebuah studi. Pemain memiliki kesempatan menyentuh bola 3,9 kali lebih banyak dalam 4v4 ketimbang 11v11 dan 2 kali lebih banyak ketimbang 7v7. Menyentuh bola berarti berinteraksi dengan bola dan belajar mengambil keputusan dan melakukan aksi motorik dengan bola. Tentu saja, semakin sering seorang anak bersentuhan dengan bola, kualitas interaksinya akan semakin membaik seiring perkembangan usia dan daya tangkapnya.

Pendekatan lain yang bisa dijadikan pertimbangan adalah, diversification. Daniel Memmert menyebutkan, bahwa konsep berlatih non-specific yang universal – non-specific yang menitik beratkan ke satu dari dua atau tiga olahraga dalam satu unit latihan yang sama – dan konsep specific ke satu olahraga saja, bisa menjadi pertimbangan dalam melatih kreativitas taktik dalam olahraga tim. Konsep non-specific dengan titik berat ke salah satu olahraga, bisa dilakukan dengan cara, misalnya, melatih sepakbola sebanyak 70%, bola basket 15%, dan bola tangan 15% (non-specific sepakbola).

Menurut penelitian Memmert kepada anak-anak, perbaikan kreativitas taktik tergambar jelas (secara statistik) setelah anak-anak diberikan latihan menggunakan kedua konsep di atas. Baik efeknya terhadap olahraga terkait maupun efek lintas olahraga. Hasil penelitian Memmert membuktika ada efek positif dalam kreativitas taktik yang diperoleh dari hasil pelatihan konsep specific dan non-specific.

Konsep non-specific sepakbola maupun konsep specific sepakbola, termasuk deliberate-play dalam latihan sepakbola, pada dasarnya, membuat anak-anak berlatih (bermain) sepakbola sambil sekaligus melatih faktor taktik, teknik, dan fisik. Tidak bisa tidak, ketiga faktor ini harus dilatih berbarengan. Desain permainan/latihan yang tepat agar anak-anak terus belajar (dengan gembira) tentang bagaimana menyesuaikan aksi-aksi mereka dalam situasi-situasi berbeda (secara kolektif) sangat diperlukan dalam fase ini.

Yang juga perlu untuk selalu diingat oleh pelatih, adalah, seperti yang disampaikan oleh Jed Davies dalam Coaching Tiki-Taka Style of Play, berikanlah pujian terhadap usaha keras yang dilakukan oleh anak-anak ketimbang terus-menerus memuji keberhasilannya. Anak-anak yang menerima dukungan/dorongan atas usahanya terindikasi berusaha keras lebih konsisten ketimbang mereka yang dipuji akan keberhasilannya.

Pelatih juga bisa menggabungkan pendekatan latihan yang didesain agar anak-anak berusaha mencapai target/tugas sebagai fokus dengan gaya melatih tanpa penggunaan instruksi yang mempersempit fokus/perhatian pemain – yang memicu inattentional-blindness –. Pencapaian tugas/target disertai reward bisa diterapkan agar anak-anak terdorong untuk terus berusaha semaksimalnya tanpa merusak kesenangan bermain. Dengan adanya target yang menjadi tujuan, anak-anak akan berpikir untuk menemukan solusi terbaik bagi mereka.

Dr. Heri Rahyubi, 2014, mengatakan, “…pada fase anak besar (6-12 tahun), aspek yang menonjol adalah perkembangan sosial dan intelegensia. Di usia ini, selain muncul kekuatan juga mulai menguasai fleksibilitas dan keseimbangan…. Peningkatan/perkembangan gerak pada fase remaja (sampai 18-20 tahun) terus berjalan pesat… yang bisa diidentifikasi dalam bentuk:

  • Gerakan dengan mekanika yang semakin efisien;
  • Gerakan yang semakin lancar dan terkontrol;
  • Pola atau bentuk yang semakin variatif; dan
  • Gerakan yang semakin bertenaga.

Dari kutipan di atas, terlihat sekali adanya siklus yanag mana perkembangan fisik dan motorik yang membaik disertai adaptasi sosial dan intelegensia (penalaran) yang meningkat. Dalam fase ini, tentu akan sangat menguntungkan bagi anak-anak, apabila pelatih mampu memberikan/melibatkan anak-anak ke dalam permainan yang, sekali lagi, mampu sekaligu merangkul/melatih aspek motorik, fisik (stamina, kekuatan), pengambilan keputusan (termasuk kreativitas), kepercayaan diri (mental), dan kemauan bekerja sama dalam sebuah tim.

Apa yang disampaikan Dr. Heru di atas, sejalan dengan Jurnal Hari Amirulah Rahman, 2008. Rahman, berdasarkan model pembelajaran Teaching Games for Understanding (TGfU), mengatakan pentingnya meningkatkan apresiasi anak terhadap prinsip permainan (afektif) sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan sendiri bentuk-bentuk permainan.

15-tgfu-dalam-latihan-sepakbola-anak-anak
TGfU sebagai panduan pemberian latihan sepakbola kepada anak-anak (dari Rahman, 2008).

8. Kreativitas dalam analisis pertandingan

 Dalam menganalisis, selain analis dihadapkan pada sebuah pertandingan olahraga yang banyak memuat aksi kreatif, pada dasarnya menganalisis sepakbola merupakan sebuah aktivitas yang mampu menguji tingkat kreativitas sepakbola seseorang. Salah satu metode Daniel Memmert ketika menguji kreativitas partisipan tes tingkat kreativitas yang dilakukannya adalah, meminta partisipan menonton potongan video sepakbola, kemudian (1) menebak apa yang selanjutnya akan dilakukan para pemain dalam video, (2) memberikan alternatif solusi kreatif yang akan dilakukan partisipan bila mereka berada dalam situasi di video tersebut. Melalui faktor penilai yang ditetapkannya, Memmert dan tim menilai tingkat kretaivitas para partsipan.

Aktivitas yang sama juga dilakukan oleh analis sepakbola, baik melalui sudut pandang subjektif – yang mana proses analisis dilakukan berdasarkan observasi pribadi analis (diadaptasi dari Memmert, 2016) – maupun melalui sudut pandang yang lebih objektif yang melibatkan teknologi komputer dan statistik. Para analis menonton pertandingan dan memberikan penilaian serta solusi terhadap situasi-situasi yang ditentukan. Oleh karenanya, dalam menganalisis pertandingan, yang melibatkan faktor subjektif dan objektif, akan sangat baik bila seorang analis memiliki kesadaran permainan (game-sense) yang memadai.

Bagi mereka yang baru memulai menganalisis pertandingan, biasanya terlihat beberapa karakter umum dalam hasil analisis yang dilakukan. Apa itu? Pertama, analisis terlalu berfokus pada gol yang diciptakan. Analis berfokus terhadap aspek eksekusi gol dan struktur pertahanan ketika gol terjadi. Bisanya, analisis dibarengi dengan penjelasan beberapa momen terdekat sebelum gol terjadi.

Yang kedua, sering terlihat penggunaan kata-kata yang tidak/kurang spesifik sepakbola. Misalnya, tim A bermain semakin menyerang, tim B bermain melebar, tim Z kebobolan dua kali dari tendangan sudut karena bek kurang konsentrasi, dan lain-lain.

Yang ketiga, adalah inattentional-blindness. Ini menjadi ciri paling umum dalam proses melakukan analisis sepakbola. Salah satu ciri inattentional-blindness dalam analisis taktik, adalah analis tidak dapat “menangkap” detail taktik dalam satu fase tertentu penguasaan bola (menyerang). Inattentional-blindness dalam menganalisis sepakbola berarti si analis melewatkan banyak momen/pergerakan yang seharusnya ia “tangkap” dan analisis, karena momen/pergerakan tersebut merupakan momen “utama”. Semakin banyak inattentional-blindness yang dilakukan seorang analis, semakin omong kosong pula hasil analisisnya.

Yang bisa dilakukan dalam memperbaiki kekurangan-kekurangan ini adalah, meningkatkan kesadaran permainan (game sense) – up-date dan up-grade pengetahuan – dan perbanyak menonton pertandingan dari liga-liga yang berbeda secara acak (differentiated-learning) sekaligus memaksakan diri untuk tidak terus terpaku pada bola (ball-watching) ketika menonton pertandingan.

Dari sudut pandang yang lebih objektif, Memmert, Lemmink, serta Sampaio dan Joseph Taylor serta Mellalieu pernah merilis dua jurnal berbeda yang memberikan banyak informasi tentang bagaimana melakukan analisis berdasarkan positional-data (Memmert, Lemmink, Sampaio, 2016), heat-map, dan perhitungan statistik individual (Taylor, Mellalieu, 2005) mampu memperkuat analisis kualitatif. Yang mana analisis tetap mengacu kepada strategi dan taktik dari tim pelatih.

Memmert, Lemmink, dan Sampaio melakukan analisis taktik yang melibatkan tiga faktor ukur, yaitu inter-player coordination, inter-team dan inter-line coordination, dan ­team-team interaction dan compactness. Tes ini dimulai dari menentukan sentroid setiap pemain dan position-specific centroid meraka yang teridentifikasi dalam approximity entropy (ApEn) untuk kemudian dilanjutkan dengan membandingkan sentroid inter-team (jarak antara sentroid kedua tim) dan inter-line (jarak sentroid antara penyerang, gelandang, dan bek kedua tim sebelum critical-events (seperti gol dan tembakan) ). Langkah terakhir, analisis diukur berdasarkan bentuk spesifik antara tim menyerang vs tim bertahan yang dinilai berdasarkan kesuksesan umpan dan ball-recovery disertai perhitungan median waktu yang diperlukan baik ketika melakukan pressing dalam fase “terstruktur” maupun transisi negatif (gegenpressing). (Diadaptasi dari Memmert, Lemmink, Sampaio, 2016).

Analisis ini pada akhirnya memberikan data terukur bagi tim pelatih untuk menentukan mana momen-momen kritis di mana kreativitas taktik dapat dinilai lebih objektif serta memberikan dasar bagi tim pelatih untuk merencanakan training yang lebih spesifik berdasarkan data hasil analisis.

Sementara, analisis yang dilakukan Taylor dan Mellalieu lebih sederhana. Keduanya mengukur aktivitas pemain per posisi dan mengidentifikasi peran pemain berdasarkan heat-map serta aksi dengan bola (on-ball action). Tujuan penelitian yang ingin dicapai, adalah mempelajari potensi hubungan antara pemain dan unit taktik dengan acuan terhadap strategi tim pelatih. Keduanya memberikan out-put berupa analisis kuantitatif, yang mana analisis kualitatif berasal dari tim pelatih.

Poin yang dapat dipelajari dari dua penelitian di atas, adalah, yang juga sering tidak disadari dan tidak dipahami banyak orang, kesemuanya mencoba menggabungkan analisis kuantitatif (statistik) berdasarkan teknologi komputer dengan analisis kualitatif (masukan taktik dari pelatih). Apa tujuannya? Tidak lain tidak, agar analisis yang dihasilkan betul-betul merupakan sebuah analisis sepakbola utuh, yang dari karakteristik analisis semacam ini tim mampu melakukan penilaian objektif, baik terhadap tim sendiri maupun pemain lawan, yang pada gilirannya, memberikan panduan jelas sebagai dasar untuk menyusun rencana (latihan, strategi, dan taktik) ke depan. Tentu saja, dengan logika berpikir semacam ini, kreativitas taktik sebagai elemen penting sepakbola akan ikut terimbas positif.

Yang terakhir, analis perlu memperhatikan adanya potensi brain fatigue (jenuh otak) dalam aktivitas analisis.  Ketika menganalisis sepakbola, seorang analis sangat mungkin mengalami brain-fatigue (jenuh otak). Saya pernah bereksperimen dengan melakukan analisis terhadap 6 pertandingan dari 3 liga top berbeda selama dua hari berurutan yang mana lima di antaranya dituangkan ke dalam bentuk tulisan dengan rata-rata > 1500 kata. Hasilnya, dibutuhkan recovery selama minimal 72 jam setelah tulisan terakhir selesai untuk sepenuhnya menghilangkan jenuh otak. Ketika Anda berada dalam kondisi serupa – jenuh otak – ambillah langkah mundur dengan cara “mengistirahatkan otak”. Tidur atau melakukan aktivitas otak yang tidak membutuhkan fokus/perhatian besar sangat disarankan demi mendapatkan kembali “otak yang fresh”.


9. Apakah taktik membatasi/mengurangi kreativitas

 Hal ini masih menjadi perdebatan. Melalui proses belajar lebih dalam tentang kreativitas untuk kemudian melakukan evaluasi kecil terhadap salah satu uji-tanding di mana kami melakukan sedikit perubahan taktik, beberapa hipotesis baru muncul.

  • Taktik berpotensi mengurangi kemunculan solusi kreatif di area tertentu akibat penyesuaian (perubahan) taktik. Contoh, model permainan yang awalnya menghendaki #2, #7, #8, #6, dan #9 ikut dalam overload di half-space di sepertiga awal lawan, lalu kemudian (demi mempertahankan keunggulan), #2 dan #6 diinstruksikan “menahan diri” untuk “tidak terlibat” dalam overload di area yang dimaksud di atas, di mana taktik bertahan lawan sama persis (tidak mengalami perubahan), #8 yang bertugas mendistribusikan bola ke area lebih depan, dalam formasi overload yang dimaksudkan, mengalami kesulitan mendapatkan solusi kreatif dikarenakan dukungan opsi (environment) yang hilang (berkurang).
  • Memberikan instruksi taktik yang bersifat attention-narrowing – sebuah kondisi ketika respon persepsi pemain menyempit dan terlalu berfokus kepada apa yang dikatakan pelatih – mengakibatkan inattentinal-blindness dan melemahkan/meniadakan munculnya ide/solusi kreatif demi pemecahan masalah.
  • Instruksi taktik bukan penyebab penghambat kreativitas, tetapi kesalahan instruksilah yang bertanggung jawab terhadap lemahnya aksi kreatif pemain. Lebih spesifik lagi, taktik dan instruksinya diperlukan sebagai model acuan atau sebagai titik tolak. Tanpa model acuan, aksi pemain tidak lebih dari ekspresi intuitif tak logis. Dalam jangka pendek, aksi tanpa konteks bisa merusak struktur taktik yang sudah dilatih selama periodisasi. Dalam jangka panjang? Salah satu kemungkinannya adalah, kerusakan motivasi pemain dikarenakan rusaknya hubungan antarpemain sebagai akibat ikutan dari pembiaran pelatih terhadap pemain(-pemain) yang tidak disiplin taktik.

Penutup

Dalam berbagai disiplin olahraga, terutama olahraga tim, seperti sepakbola, yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi, tuntutan agar pemain mampu menyerap berbagai informasi dalam waktu sesingkat-singkatnya merupakan sebuah keharusan. Untuk itu, memiliki tumpuan yang memperkuat kreativitas, dengan mengacu kepada Investment Theory-nya Stenberg, dapat membantu di tahap awal pembelajaran terkait perbaikan kreativitas taktik indvidu. Knowledge memegang peranan penting dalam tahap ini. Struktur knowledge yang dipengaruhi oleh hubungan (link) antar-node memegang peranan penting dalam memicu solusi yang bersifat original dan flexible.

Lebih spesifik ke dalam sepakbola, Daniel Memmert dan Klaus Roth menawarkan kerangka kerja yang terdiri dari 6 faktor, baik yang memengaruhi maupun yang mendukung kemunculan solusi kreatif. Perlunya pembelajaran menyeluruh dalam melatih kreativitas, yang dimulai dari konsep (model), berlanjut ke tahap pemahaman pengambilan keputusan (knowledge, analysis, synthesis) dan tereflesikan melalui aksi motorik (eksekusi) dalam Teaching Game for Understanding memiliki kesamaan pola pikir dengan periodisasi taktik.

Melalui periodisasi taktik, pemain dilatih berdasarkan hirarki yang menempatkan model permainan di urutan pertama untuk kemudian secara bersamaan merangkul elemen eksekusi yang terhubung dengan taktik, pengambilan keputusan, stamina, dan mental, serta secara konsisten melibatkan 4 fase bermain (“menyerang”, “bertahan”, dan fase transisional keduanya). Periodisasi taktik yang memberikan panduan pengaturan intensitas terstruktur dan bertahap memiliki indikasi yang sangat kuat bahwa model ini mampu memfasilitasi kemunculan lebih banyak aksi/solusi kreatif.

Melatih kreativitas juga harus diperhatikan, disiapkan, dan dilakukan sejak usia dini!! Karena – berdasarkan berbagai penelitian selama puluhan tahun dari para ahli – kreativitas dapat dilatih dan berakselerasi lebih cepat dalam usia anak-anak dan mengalami deselerasi seiring menuanya usia. Deliberate-play dalam lingkungan bermain yang berkonsep small-sided game (SSG) merupakan sebuah lingkungan dengan ekologi yang tepat dalam memicu/melatih aspek taktik, teknik, dan stamina pada anak-anak yang mana dengan kebebasan bermain yang mereka miliki, kreativitas anak terus dipacu untuk berkembang dengan percepatan yang diharapkan.

Satu catatan yang perlu diperhatikan, adalah bahwa seluruh penelitian yang telah dilakukan selalu dibarengi dengan variabel yang memiliki ceruk untuk dieksplorasi. Contoh kecil, dalam beberapa tes yang dilakukan oleh Memmert, partisipan yang terlibat dalam pelatihan maupun tes pengukuraan perbaikan kreativitas taktik, ia menggunakan subjek dengan muatan pengalaman dan level kemahiran yang setara. Sebagai alternatif terhadap variabel ini, penggunaan subjek dengan kesenjangan level pengalaman-kemahiran besar bisa menjadi pertimbangan, dikarenakan dengan menguji sampel dengan klasifikasi profesional kelas dunia dengan kelas non-profesional memiliki kemungkinan menghasilkan kesimpulan penelitian yang signifikan.


Daftar Pustaka

Buku:

Davies, Jed. (2013). Coaching Tiki-Taka Style of Play.

Rahyubi, Heri. (2016). Teori-Teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik.

Tamarit, Xavier. (2014). What Is Tactical Periodization.

Tamarit, Xavier. (2014). What Is Tactical Periodization. Hal. 92.


.pdf (Jurnal dan Tugas Akhir)
:

Baker, Joseph., & Young, Bradley. 2015. 20 years later: deliberate practice and the development of  expertise in
sport, International Review of Sport and Exercise Psychology
.

Conti, Regina., & Amabile, Teresa. (1999). Encyclopedia of Creativity, Motivation/Drive.

Cropley, Arthur J. (1999). Encyclopedia of Creativity: Definitions of Creativity. Hal. 512.

Fasko, Daniel Jr. (1999). Encyclopedia of Creativity, Associative Theory.

Kaufman, James C., & Skidmore, Lauren E. (2010). Taking the Propulsion Model of Creative Contributions into
the 21st Century
.

Kaufman, James. C., Plucker, Jonathan. A., & Russel, Christine. M. (2012). Identifying and Assessing Creativity as
a Component of Giftedness
. Journal of Psychoeducational Assessment 30(1) 60 –73.

Kirk, David., & McPhail, Ann. (2002). Teaching Games for Understanding and Situated Learn­ing Rethinking the
Bunker-Thorpe Model.

Kirk, David., & McPhail, Ann. (2002). Teaching Games for Understanding and Situated Learn­ing: Rethinking the
Bunker-Thorpe Model.
Hal. 185.

Memmert, Daniel. (2007). Can Creativity Be Improved by An Attention-Broadening Training Program? An
Exploratory Study on Team Sport.
Hal. 281.

Memmert, Daniel. (2006). Developing Creative Thinking in A Gifted Sport Enrichment Program and The
Crucial Role of Attention Processes.

Memmert, D. (2011). Sports and Creativity. In: Runco MA, and Pritzker SR (eds.) Encyclopedia of Creativity,
Second Edition, vol. 2.
Hal. 373-378.

Memmert, Daniel. (2014). Tactical-Creativity in Team Sport, Research in Physical Education, Sport and Health,
Vol. 3, No. 1.
Hal. 13-18.

Memmert, D. Tactical Creativity in Invasion Games.

Memmert, Daniel., & Furley, Philip. (2007). “I Spy With My Little Eye!”: Breadth of Attention, Inattentional
Blindness, and Tactical Decision Making in Team Sports
.

Memmert, Daniel., & Furley, Philip. (2007). “I Spy With My Little Eye!”: Breadth of Attention, Inattentional
Blindness, and Tactical Decision Making in Team Sports
. Hal. 374.

Memmert, Daniel., Hüttermann, Stefanie., Orliczek, Josef. (2013). Decide Like Lionel Messi! The Impact of
Regulatory Focus on Divergent Thinking in Sports.

Memmert, D., Lemmink, Koen A.P.M., & Sampaio, Jaime. (2016). Current Approach to Tactical Performance
Analyses in Soccer Using Position Data
. Sports Medicine.

Memmert, D., & Roth, Klaus. (2006). The Effects of Non-Specific and Specific Concepts on Tactical Creativity in
Team Ball Sports.

Michael, William B. (1999). Encyclopedia of Creativity, Guilford’s View.

Neelan, Mirjam., & Kirschner, P. A. (2016). Deliberate Practice: What Is It and What It Isn’t.

Rachman, Hari Amirullah. (2008). Teaching Games for Understanding (TGfU): Memahami Pendekatan Taktik
Sebagai Model Pembelajaran dalam Pendidikan Jasmani. Universitas Negeri Yogyakarta.

Runco, Mark A. (1999). Encyclopedia of Creativity, Divergent Thinking. Hal. 577.

Scott, Teres Enix. (1999). Encyclopedia of Creativity, Vol. 2, Knowledge.

Scott, Teres Enix. (1999). Encyclopedia of Creativity, Vol. 2, Knowledge. Hal. 122.

Setiawan, Caly., & Nopembri, Soni. Teaching Games for Understanding (TGfU) (Konsep dan Implikasinya dalam
Pembelajaran Pendidikan Jasmani
). Di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta.Smith,

Steven M., & Dodds, Rebecca A. (1999). Encyclopedia of Creativity, Incubation. Stenberg, Robert J. (1999).
Handbook of Creativity.

Stenberg, Robert J. (2006). The Nature of Creativity, Vol. 18. Hal. 87-98.

Taylor, Joseph., & Mellalieu, Stephen. (2005). A Comparison of Individual and Unit Tactical Behaviour and Team
Strategy in Professional Soccer.
International Journal of Performance Analysis in Sport.

Vallerand, Robert J. (1997). Toward A Hierarchical Model of Intrinsic and Extrinsic Motivation. Hal. 279.


Tulisan on-line:

Moritz Kossmann. (2016). Türchen 6: 7vs7+2 Diagonality Game. Di http://konzeptfussballberlin.de/

Saifur, S.Pd., S.Or. (2013). Definisi Pedagogi, Olahraga, dan Pedagogi Olahraga. Di
https://saifurss07.wordpress.com/

Schmidt, Eduard. (2016). SV Training # 1: Think different corners around the corner. spielverlagerung.de.

Sullivan, Mark O. (2015). Teaching Tactical Creativity – Dr. Daniel Memmert. Di www.futbolblog.com

Williams, Jeremy. (2013). Small-Sided Games Part II: What is The Best Configuration?. Di
www.scienceoffsocceronline.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s