City 1-3 Chelsea: Chelsea Memanfaatkan Ketidakstabilan Gegenpressing City

Chelsea membawa pulang 3 poin bernilai spektakuler. Tim asuhan Antonio Conte tersebut mengalahkan Pep Guardiola dengan skor 3-1 di Stadion Etihad, markas Man. City. Keunggulan The Citizen di babak pertama dibalas tuntas oleh Diego Costa, Willian, dan Eden Hazard.

Pola bertahan 5-4-1 Chelsea, yang tampil tidak terlalu istimewa, mampu memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengekploitasi ruang di belakang lini terakhir City.

susunan-pemain-babak-pertama
Susunan pemain di babak pertama.

City memainkan pola dasar 3-2-4-1 atau 3-2-2-3 yang bisa pula dikategorikan sebagai formasi MW dari sepakbola era terdahulu. Pola ini bertransposisi menjadi bentuk 5 bek ketika tuan rumah bertahan di blok rendah. Chelsea sendiri memainkan formasi dasar 3-4-3 dengan tranposisi ke bentuk 5-4-1 saat blok rendah.

City mengincar sisi kiri Chelsea

Sejak menit-menit awal, indikasi area yang menjadi target serangan Man. City sudah terlihat. Dalam dua kesempatan pertama membangun serangan, City selalu mengalirkan bola melalui sisi kanan area penyerangan. Dalam strukturnya, salah satu dari Jesus Navas atau Kevin De Bruyne turun mendekat ke half-back (bek tengah samping) untuk mengkoneksikan serangan ke area depan.

Saat Bruyne menjemput bola dan melakukan progresi, akan ada 3 pemain City yang mengisi half-space sisi bola di sepertiga akhir. Okupansi di half-space ini–yang dilakukan oleh Navas, David Silva, dan Sergio Aguero–bertujuan untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi Bruyne untuk bergerak di koridor sayap. Dengan berada di half-space, ketiganya sedang mengikat pemain-pemain Chelsea untuk berfokus ke tengah, sehingga, diharapkan, ruang di sisi sayap semakin terbuka.

Ada 3 skenario umum City dalam usaha mereka berpenetrasi ke kotak penalti lawan. Yang pertama, adalah melepaskan umpan silang dari sayap langsung ke kotak 16  lawan.

Skenario kedua, adalah membuka jalur umpan diagonal bagi pembawa bola, yang berada di koridor sayap untuk melepaskan umpan terobosan mendatar ke kotak penalti. Di dalam skenario ini, salah satu dari 3 pemain di half-space bergerak melebar memancing half-back Chelsea (Gary Cahill) untuk ikut bergerak melebar yang sekaligus membuka jalur umpan.

city-membuka-celah-half-space
Mekanisme pergerakan pemain-pemain City dalam membuka celah di half-space

Skenario ketiga adalah memainkan overload di sisi kiri untuk kemudian melakukan perpindahan cepat melalui umpan diagonal melambung ke sisi underloaded di kanan. Target umpan adalah Navas yang berdiri di sayap jauh.

Gol City lahir dari skema ketiga. Tetapi, sejatinya, gol tuan rumah juga memperlihatkan sedikitnya 3 hal yang merupakan satu kesatuan utuh yang bersinergi dalam proses lahirnya gol.

Hal pertama adalah perlunya menekan build-up City sejak dini. Menekan sejak dini di sini maksdunya adalah melakukan press blok tinggi. Chelsea gagal melakukannya karena saat itu, sirkulasi bola The Citizen berawal dari free-kick yang mengharuskan The Blues berada dalam blok menengah.

Cepatnya Manchester Biru memprogresi bola sampai ke separuh pertahanan lawan membuat mereka mampu sedikit menggoyahkan kestabilan bentuk bertahan lawan. Di sini City berhasil menstabilkan sirkluasi bola mereka.

Hal kedua adalah perlunya mensirkulasi bola dari satu sisi ke sisi yang lain ketka menghadapi tim dengan compactness blok rendah yang sangat baik. Ini yang dilakukan City. Mereka mengalirkan bola ke kanan, lalu ke kiri, kemudian melakukan perpindahan ke kiri melalui Aguero.

Dengan mengalirkan bola dari satu sisi ke sisi lain, struktur blok tim bertahan dipaksa untuk bergeser yang mana dalam pergeseran-pergeseran semacam inilah terkadang harmonisasi gerak individual menciptakan celah/ruang.

Hal ketiga, seperti yang sudah disebutkan di atas, adalah perpindahan permainan. City melakukan overload dengan 7 pemain di 3 koridor sisi bola (sayap, half-space, dan tengah) di sepertiga akhir Chelsea. Aguero yang menerima bola dari Silva segera melakukan perpindahan kepada Navas. Dengan terbukanya ruang, Navas berkesempatan berprogresi sejenak sebelum melepaskan umpan silang yang menyebabkan gol bunuh diri Cahill.

Pressing blok tinggi mengganggu progresi “bersih” dari lini pertama

Kedua tim sama-sama memainkan pressing blok tinggi untuk menekan build-up lini pertama lawan. Ditinjau dari seberapa banyak progresi “bersih” yang didapatkan oleh City maupun Chelsea, pressing blok tinggi keduanya terhitung bekerja dengan semestinya. Baik city maupun Chelsea mencatatkan beberapa turnover, seperti umpan pendek/menengah direbut lawan atau umpan panjang (tidak terencana) yang tidak menemui sasaran.

Dari beberapa progresi build-up, lebih banyak disebabkan oleh umpan-umpan panjang yang disertai keberhasilan memenangkan bola kedua, ketiga, dst. Contohnya City. Beberapa kali anak asuh Pep ini berhasil mendapatkan superioritas 2v2 dan sukses melewati pressure lawan melalui umpan panjang diagonal dari lini pertama (lini belakang) yang diarahkan ke sepertiga tengah di area sayap. Sementara Chelsea sendiri, sempat beberapa kali memenangkan bola kedua hasil duel udara dari umpan panjang yang dilepaskan langsung dari lini pertama ke lini terdepan.

Sebaliknya, kedua tim juga mendapatkan kesempatan menyerang bahkan menciptakan peluang memanfaatkan turnover lawan. Umpan panjang prematur akibat ketiadaan opsi aman dan ruang gerak menjadi penyebabnya banyaknya turnover.

Struktur penetrasi di kotak penalti

Saat kedua tim mendapatkan akses masuk ke separuh pertahanan lawan, ada skema serang berbeda yang ditampilkan. Chelsea tidak banyak memanfaatkan kehadiran ketiga bek tengahnya dalam struktur posisional. Tim asal London ini lebih fokus dalam memainkan sepakbola direct yang mana mereka selalu mencari kesempatan menciptakan superioritas kualitatif (1v1 atau 2v2) untuk berpenetrasi ke dalam kotak 16 melalui kedua tepi lapangan.

Sikap menyerang yang sedikit berbeda ditemui di sayap kiri Chelsea. Di kiri, dengan kehadiran Eden Hazard, terlihat variasi pergerakan penetratif yang lebih banyak ketimbang di sisi kanan. Dengan Hazard – yang berkombinasi dengan Diego Costa – Chelsea berusaha masuk ke tengah, melalui half-space. Hazard yang memiliki kemampuan dribble dan insting gol bagus sangat cocok memainkan peran seperti ini.

Selain memanfaatkan kemampuan individual Hazard, suah barang tentu The Blues juga mencoba masuk dari tepi lapangan melalui Alonso. Bek kiri eks Fiorentina ini akan melakukan overlap untuk menerima umpan Hazard atau Costa yang mengokupansi half-space di sisi bola.

Di kanan Chelsea lebih direct. Mereka mencoba memanfaatkan kecepatan Victor Moses untuk berpenetrasi langsung dari sayap sisi bola.

Seperti biasa, Conte memainkan kedua wing-back untuk berperan sangat aktif dalam fase menyerang. Saat fase transisi serang dari blok rendah pun, misalnya, kedua wing-back akan dengan segera bergerak vertikal demi mengokupansi zona menyerang di sepertiga akhir.

Dari sisi tuan rumah, City sendiri lebih banyak mengikutsertakan kehadiran half-back demi mendorong blok pertahanan Chelsea untuk mundur semakin dalam. Nicolas Otamendi dan Alexandr Kolarov ikut maju sampai ke sepertiga tengah Chelsea. Bergantian dengan Fernandinho, keduanya berperan sebagai #6 dalam sirkulasi bola maupun overloading City di masing-masing half-space.

Kehadiran kedua half-back City di separuh pertahanan Chelsea sangat membantu mereka membangun struktur overload yang kuat. Dengan kehadiran keduanya di half-space, City mendapatkan lebih banyak opsi perpindahan permainan dari satu sisi ke sisi lain.

Dengan kehadiran half-back di sepertiga tengah lawan, perpindahan permainan City (dari satu sisi ke sisi lain) tidak hanya terbatas pada umpan yang diarahkan langsung ke sayap sisi jauh, tetapi bisa pula dilakukan melalui half-back yang berperan sebagai konektor dalam skema ini.

Permasalahan dalam gegenpressing City

Di babak kedua, City masih memainkan skema progresi serupa. Tuan rumah mencoba masuk melalui tepi lapangan, terutama dari sisi kiri Chelsea. Bersama Navas, Kevin De Bruyne yang ikut mengokupansi sayap kanan selalu menganggu konsentrasi gelandang Chelsea. Kehadiran Bruyne di sayap menciptakan koneksi yang kuat antara dirinya dengan Navas.

Saat Bruyne menerima bola di sayap kanan, dengan segera pemain asal Belgia tersebut menarik konsentrasi gelandang sayap Chelsea. Hal ini memungkinkan Navas mendapatkan kesempatan menerima umpan terobosan dalam situasi 1v1 dengan Alonso. Bahkan, bila ternyata Alonso kalah langkah, Navas berkesempatan untuk berhadapan dengan Cahil, half-back kiri Chelsea, yang “kaki terkuatnya” adalah kaki kanan.

Seperti juga di babak pertama, Chelsea dan City tetap mempertahankan permainan pressing blok tinggi terhadap build-up di sepertiga lawan. Menghadapi pressing Chelsea, kehebatan individual David Silva memungkinkan City keluar dari pressing lawan. Eks pemain Valencia ini selalu mampu menemukan ruang-ruang di celah antarlini pressing lawan.

Peluang emas Bruyne di menit ke 50-an diawali dari keberhasilan Silva menemukan celah di belakang lini press Chelseas sehingga City berhasil menciptakan superiortas posisional. Umpan Silva kepada Navas, dilanjutkan dengan sebuah umpan silang mendatar yang sayangnya hanya berakhir dengan tendangan Bruyne membentur mistar gawang kosong.

Di babak kedua, selain gagal memanfaatkan lebih banyak peluang berkualitas, sejatinya, permasalahan dalam gegenpressing City ikut memainkan peran besar dalam kegagalan tuan rumah meraih poin. Ketidakstabilan gegenpressing City ikut berperan dalam membuat skema transisi bertahan tuan rumah menjadi tidak maksimal. Isu ini sudah terlihat di babak pertama dan masih terus terlihat di babak kedua. Salah satu contohnya, situasi di menit ke-57.

gegenpressing-lemah-city
Ketidakstabilan gegenpressing City karena lemahnya koneksi antarlini

Ketidakstabilan dipicu oleh beberapa hal yang saling berkaitan. Mulai dari ritme menyerang yang terlalu cepat dan tidak harmonis antara para pemain dari lini dan posisi berbeda, yang pada akhirnya mempengaruhi spacing (penempatan ruang-ruang strategis), yang juga berpengaruh terhadap akses pressing pada saat pemain-pemain City melakukan gegenpressing.

Gol kedua Chelsea juga berasal dari situasi serupa. Bola liar hasil umpan Ilkay Gundogan berhasil diambil alih pemain-pemain Chelsea. Progresi cepat memanfaatkan dua umpan diagonal segera membuat Willian mendapatkan ruang tembak besar di depan Claudio Bravo.

Praktis, setelah gol kedua, Chelsea menemukan momen yang tepat untuk berkonsentrasi ke pertahanan blok rendah. Peluang City untuk menemukan celah di pertahanan Chelsea semakin sulit. Hanya satu-dua kali City mampu menciptakan ruang. Dan, seperti yang disebutkan di atas, kecerdasan spasial seorang David Silva yang memungkinkan hal-hal sulit seperti ini tercipta.

Di menit-menit akhir pertandingan, keputusan Conte menempatkan Hazard sebagai penyerang tunggal membuahkan hasil. Sebuah umpan jauh dan sebuah serangan balik cepat membuahkan gol ketiga bagi Chelsea dari kaki Hazard. Dan Chelsea resmi menggapai kemenangan ke-8 secara beruntun.

Penutup

Dalam memainkan penguasaan bola, permainan City sangat baik. Mereka mampu mempersulit pertahanan Chelsea. Ini dibuktikan dengan lebih banyaknya peluang yang lebih berkualitas yang diciptakan oleh tuan rumah. Sayangnya, dari sekian banyak peluang bagus, hanya satu yang membuahkan gol.

expected-goal
Peta expected-goal. City lebih unggul dalam penciptaan peluang berkualitas.

Namun, selain kegagalan menyelesaikan peluang, ketidak maksimalan counterpress City sendiri juga menjadi penyebab kegagalan besar mereka kali ini. PR besar bagi Pep Guardiola.

Chelsea sendiri melanjutkan tren positif. Compactness dan kekuatan ball-oriented dalam pertahanan blok rendah masih menjadi salah satu senjata utama Chelsea. David Luiz tampil sangat impresif. Bersama Silva, Luiz pantas dinominasikan sebagai Man of The Match.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s