Analisa Taktik Palermo 0-3 Juventus

 

susunan-pemain-palermo-vs-juventus
Susunan pemain Palermo vs Juventus

Pertahanan Palermo

Davide Ballardini, pelatih Palermo, memainkan formasi dasar 4-4-2 berlian yang sering kali juga berbentuk 4-3-3 ketika Palermo berada dalam fase bertahan pertama. Dalam fase ini, Palermo melakukan resting-press, yaitu sebuah bentuk pressing di mana tim bertahan membentuk sebuah blok pertahanan dengan pemain-pemain yang berada di lini pertama (penyerang) pressing membiarkan bek tengah lawan untuk menguasai bola dan memutuskan ke mana bola sebaiknya diarahkan.

Dalam resting-press yang dilakukan Palermo, bentuk dasar yang digunakan adalah 4-3-1-2. Dua pemain terdepan mengawasi pergerakan 3 bek tengah Juventus. Terkadang, no. 10 mereka, Gaston Brugman, ikut maju ke lini terdepan dan membentuk pola pressing tiga pemain depan. Dua pemain terluar dalam formasi berlian di lini tengah mengawasi pergerakan bek sayap Juventus.

Sistem dan eksekusi taktik bertahan Palermo membuat Juventus kesulitan membangun serangan dari belakang (deep build-up) yang bisasanya dijalankan dengan memainkan umpan-umpan pendek dan melibatkan no. 6, Clauido Marchisio (dulu Andrea Pirlo), sebagai akses vertikal. Bentuk pressing tiga no. 8, satu no.10, dan dua no. 9 mempersulit segala upaya progresi Juventus melalui area tengah dan half-space.

Saat Juventus dipaksa bermain melebar kesisi sayap, pressing-trap Palermo pun mampu dieksekusi dengan terstruktur. Pergeseran blok yang mereka lakukan sangat tepat, baik dari sisi waktu maupun pengambilan posisi di antara pemain. Sederhananya, penciptaan keunggulan jumlah atau paling tidak menyamai jumlah pemain lawan menjadi prinsip dasar. Bek sayap, no. 8, bek tengah, dan no. 6 serta terkadang no. 9 dan no. 8 terjauh mampu menempatkan diri secara tepat dalam pergeseran blok Palermo. Dengan skema bertahan dan baiknya eksekusi yang dilakukan, Palermo mampu mengisolir Marchisio, bahkan terkadang dalam situasi salah satu no. 8-nya (Pogba misalnya) ikut turun ke bawah pun progresi serang Juventus pun masih menemui hambatan akibat baiknya kompaksi pertahanan Palermo.

Menghadapi tingginya kompaksi pertahanan Palermo, Juventus memiliki dua pilihan. Yang pertama, imemainkan bola-bola panjang langsung ke sepertiga awal pertahanan Palermo, yang secara teori maupun praktik memiliki akurasi rendah. Yang kedua, memanfaatkan mobilitas dan baiknya pengambilan posisi Paulo Dybala.

Di tengah baiknya level kompaksi pertahanan Palermo, mereka masih meninggalkan celah vertikal atarlini yang sering diisi oleh pemain-pemain depan Juventus, terutama Dybala atau Pogba. Celah yang terletak di antara lini tengah dan belakang ini dalam banyak situasi diisi oleh pemain Juventus dan menjadi pintu masuk bagi usaha Juventus untuk masuk ke sepertiga awal Palermo.

Pertahanan Juventus

Massimo Allegri memainkan pola dasar 3-5-2, yang terbukti lebih efektif saat digunakan di babak kedua dalam pertandingan menghadapi AC Milan, dengan Leonardo Bonucci, Andre Barzagli, dan Giorgio Chiellini mengisi 3 pos paling belakang. Ketiganya diandalkan sebagai penjemput bola dari Gianluigi Buffon untuk kemudian dialirkan ke depan.

Dalam permainan bertahanannya, Juventus memainkan blok yang lebih tinggi ketimbang Palermo. Pola pressing dua penyerang merupakan bentuk dasar yang mereka gunakan. Pressing blok tinggi Juventus mampu memaksa Plaermo untuk lebih memilih memainkan umpan-umpan jauh langsung ke depan. Dengan baiknya 3 bek tengah dan Paul Pogba dalam melakukan duel bola udara, Palermo makin kesulitan mendapatkan akses serang yang baik dari skema bola jarak jauh mereka.

Juventus, seperti yang sudah-sudah selalu mampu memainkan pertahanan dengan tingkat kompaksi yang sangat baik. Pergeseran blok yang sering kali melibatkan no. 9 menjadi salah satu kekuatan pertahanan mereka. Hal yang sama terjadi dalam pertandingan ini.

Serangan kedua tim

Seperti yang disebutkan di atas, skema serang Palermo sangat banyak berasal dari umpan-umpan panjang ke lini depan. Hal ini sangat wajar mengingat Juventus memainkan pressing blok tinggi. Saat mereka mampu menguasai bola dan memasuki sepertiga awal Juventus, bentuk pertahanan Juventus pun mampu memaksa mereka bermain melebar dan lagi-lagi Palermo dipaksa memainkan umpan silang dengan akurasi buruk. Secara umum, Palermo bisa dikatakan tidak memberikan ancaman berarti ke gawang Juventus.

Bagaimana dengan Juventus? Mereka lebih beruntung ketimbang Palermo. Kenapa? Kedua tim memainkan pressing yang mampu menghambat progresi masing-masing lawan di area tengah. Pada akhirnya, kedua tim memainkan bola-bola panjang sebagai salah satu cara untuk mem-bypass pressing lawan. Dan Palermo lebih banyak melakukannya ketimbang Juventus. Di sinilah Juventus beruntung memilik Paulo Dybala dan Paul Pogba yang memiliki pressing-resistance sangat baik.

Pressing-resistance merupakan frasa yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana baiknya seorang pemain untuk tetap tenang (composure) ketika menerima pressing berintensitas tinggi. Dalam sepak bola Jerman dikenal istilah needle-player, yaitu pemain-pemain yang tetap mampu mengolah bola secara tepat dalam ruang gerak sempit. Paul Pogba dan Paulo Dybala (juga Alvaro Morata) merupakan jenis pemain seperti ini.

Paulo Dybala sering kali turun ke bawah, ke sepertiga tengah lawan untuk menciptakan akses bagi lini belakang Juventus yang ditekan oleh pressing lini pertama (penyerang) dan lini kedua (gelandang) Palermo. Faktor Dybala mampu mendapatkan ruang untuk menerima umpan juga sering kali disebabkan oleh pergerakan dua no. 8 Juventus, Pogba dan Stefano Sturaro, yang bergerak sedikit melebar (dari tengah ke half-space). Pergerakan keduanya diikuti oleh pemain-pemain tengah Palermo. Hal ini membuka celah di area tengah. Dan Dybala sering kali terlihat mengisi area strategis ini. Melalui kelebihan indvidual Dybala dan Pogba, Juventus sering mendapatkan ruang menyerang yang srategis.

Dalam skema serangan Juventus Allegri memainkan pemain-pemainnya secara asimetris antara sisi kiri dan kanan. Di kiri, Patrice Evra menjadi bek sayap yang menyisir sayap kiri. Pogba menjadi no.8 yang pergerakannya vertikal untuk masuk ke dalam kotak penalti lawan. Di sisi kanan, Juan Cuadrado beberapa kali melakukan gerak diagonal ke half-space maupun tengah sementara Sturaro menjadi no. 8 yang bergerak ke sayap.

Orientasi gerak Pogba merupakan salah satu taktik Allegri untuk memvariasikan eksekusi peluang timnya. Allegri paham, bahwa Palermo akan habis-habisan menutup ruang tengah, untuk itu mau tidak mau Juventus harus menciptakan formasi yang bisa mendukung penetrasi mereka dari sisi luar. Tentunya, bila diperlukan, Juventus harus memainkan umpan silang melambung. Dalam skema semacam inilah, Dybala sering terlihat ikut bergerak di kedua area sayap untuk melakukan umpan silang melambung dan Pogba serta Mario Mandzukic yang menjadi target eksekusi di dalam kotak 16 Palermo.

Sama-sama kesulitan

Palermo dalam beberapa momen, terutama setelah Juventus unggul satu gol, bahkan mampu menciptakan keunggulan jumlah dalam pressing yang mereka lakukan di sepertiga awal Juventus, saat Juventus berada dalam mode deep build-up.

palermo-menciptakan-superioritas-jumlah
Palermo menciptakan superioritas jumlah yang mepersulit Juventus.

Dalam situasi di atas, Palermo berhasil merebut kembali penguasaan bola. Tetapi, ketika berusaha melakukan penetrasi melalaui sisi kanan Juventus, Alvaro Morata dan Paulo Dybala segera ikut turung ke area dalam dan Juventus balik meciptakan superioritas jumlah. Serangan Palermo pun gagal (lagi).

Dua gol Juventus pun lahir dari umpan silang melambung serta situasi lemparan ke dalam yang dilakukan dengan cepat. Sulitnya Juventus membangun serangan bersih melalui tengah, seperti yang disebutkan di atas, membuat mereka memvariasikan serangan melalui sayap. Gol pertama Juventus menjadi salah satu contoh sukses skema ini. Mario Mandzukic memanfaatkan kekuatan tubuhnya untuk memenangkan duel udara dan menciptakan gol lewat sundulan keras. Gol kedua Juventus pun lahir dari cepatnya Juventus memanfaatkan transisi bertahan Palermo dari blok tinggi ke rendah yang diawali oleh sebuah lemparan ke dalam.

Dua gol ini bukan didahului oleh eksekusi rencana utama dalam skema serang. Gol-gol ini pun bukan termasuk gol yang lahir dari sebuah peluang dengan nilai expected goal (kemungkinan gol) yang sangat tinggi.

Gol ketiga? Palermo sudah terlanjur “hancur”.

Kesimpulan

Kedua tim mampu menampilkan permainan bertahan dengan level kompaksi yang baik. Resting-press Palermo cukup mampu menghambat serangan “bersih” yang dibutuhkan oleh Juventus. Kompaksi blok struktural mereka di area tengah serta pergeseran blok yang tepat waktu dan pengambilan posisi mempersulit serangan Juventus di tengah maupun sayap.

Juventus pun melakukan hal serupa. Kompaksi pertahanan mereka banyak memaksa Palermo memainkan bola-bola jauh yang bernilai strategis rendah. Yang setelah dieksekusi hanya menghasilkan penguasaan bola yang hilang, baik karena dipotong pemain Juventus maupun keluar lapangan.

Untuk berlaga di UEFA Champions League, struktur dan kestabilan pertahanan Juventus bisa dikatakan cukup kuat. Tetapi hal berbeda saat kita mengkaji serangan mereka. Juventus perlu melakukan lebih banyak variasi, terutama, dalam penetrasi yang mereka lakukan di sekitar sepertiga awal lawan.

Anda bisa jumpai saya di Twitter @ryantank100

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s