Borussia Dortmund, Jürgen Klopp, dan Gegenpressing

borussia-dortmund-2013

Fosil dari musim 2013, yang baru saja ditemukan di laptop lama.

Sepanjang musim 2012-2013 kemarin, Borussia Dortmund menjadi salah satu klub yang paling menghibur di Eropa. Mereka berhasil menembus Final Liga Champions (LC) dengan mengagregat Real Madrid 4-3 (4-1 di antaranya dilakukan di Signal Iduna Park), lewat permainan yang topcer. Bukan dengan sepakbola yang memicu cibiran. Dortmund bermain dengan garis pertahanan tinggi, buanyak melakukan pressing dengan rata-rata jumlah lari per pemain tertinggi, dan menyerang setiap ada kesempatan melakukannya.

Saya, sebagai penggemar FC Bayern, sangat memperhatikan segala perkembangan Bayern. Termasuk di antaranya, tim-tim pesaing yang potensial menghentikan Bayern. Dan, bagi saya, Dortmund merupakan (salah satu) ancaman terbesar. Saat Dortmund menjuarai Bundesliga 2010-2011, tadinya saya tidak terlalu memperhatikan. Tapi, tetap saja, fenomena ini menarik perhatian saya. Hampir di seluruh sepanjang musim berikutnya, 2011-2012, saya ikuti bagaimana Dortmund (dan Bayern, pastinya) menjalani musim. Pada akhirnya, banyak hal-hal spektakuler yang saya temukan. Bukan hanya Dortmund berhasil kembali menjadi juara Bundesliga, dengan membuat beberapa rekor domestik baru.Mereka bahkan sekaligus menjuarai DFB-Pokal, mengalahkan Bayern 5-2. Gelar ganda!! Dan Klopp melakukannya di bawah payung dana transfer yang sangat minim.

Di antara kefenomenalannya, satu hal yg sangat “mengganggu” pikiran saya, adalah cara Dortmund bermain. Ada sesuatu yang baru tetapi saya tidak terlalu yakin apakah benar2 “baru” atau jangan-jangan hanya sekedar jarang saya temukan di dalam taktik tim-tim lain. Saya putuskan mencaritahu lebih banyak. Saya banyak mengunduh full match Dortmund, saya mengunduh banyak partai tim-tim lain. Saya banyak membandingkan statistik Dortmund dengan tim-tim lain. Kesimpulannya? Banyak hal menarik saya temukan dalam tim Dortmund.

Kita coba kembali ke masa lalu. Pada ngikutin Barca mulai 2008, era Pep, kan? Yang menarik dari Pep, salah satunya, penerapan umpan tik-tak khas, yang kemudian oleh media disebut sebagai tiki-taka. Sistem permainan yang mekanisme serangannya dibangun berdasarkan pada kombinasi antara umpan pendek, garis pertahanan yg tinggi, dan permutasi posisi ganteng dari para pemainnya. Lebih dari pada bagaimana Pep memerintahkan Barca bermain, yang tidak kalah penting adalah Pep berhasil membawa Barca juara LC sebanyak dua kali (2009 dan 2011). Singkatnya, Pep sukses dengan konsepnya. Dan yang namanya sukses, sudah sangat jamak, memicu banyak peminat, analis, dan duplikasi. Ini juga berlaku terhadap sukses Barca. Lantas, apa hubungannya dengan Dortmund?

Sejak sukses Barca, semakin banyak tim yang berusaha mengadaptasi atau menyempurnakan sepakbola berbasis penguasaan bola dengan umpan-umpan pendek tik-tak. Juga, makin banyak tim menjadi lebih “bersemangat” menseriusi konsep pressing. Sebetulnya, bukan Barca yang memulai sepakbola berbasis penguasaan bola. Arsene Wenger dan Arsenal jelas “pemuja” strategi ini. Roberto Martinez (sekarang di Everton) juga possesion-based. Jangan lupakan Brazil dan Jogo Bonito. Juga Milan 80-90an, era Sacchi. Tahu istilah corto stretto, kan? Yang artinya, kira-kira, pendek merapat. Tetapi jelas, yang paling ekstrem, tidak lain tidak, tik-taknya Pep Guardiola. Saksikan dan bandingkan sendiri, deh.

Bukan pula Pep yang memulai sepak bola pressing. Sejak jaman Johan Cruijf sepak bola semacam ini sudah ada. Dan ngomong-ngomong soal pressing, Arrigo Sacchi di era akhir 80-an jelas merupakan salah seorang yang mempopulerkan pressing. Pep dan Klopp sama-sama Klopp dengan filosofi bermain Sacchi. Compactness dalam taktik mereka dibangun dengan Milan era Sacchi menjadi refrensi.

Bila saya katakan ada “Pep” di dalam konsep bermainnya Klopp, saya pikir masuk akal. Satu hal yang sama antara Klopp dengan Pep, adalah pressing. Satu yang paling terkenal dari Pep, adalah “6 seconds rule”. Sebuah konsep yang tujuan utamanya untuk kembali menguasai bola dalam waktu sesingkat-singkatnya, setelah tim kehilangan bola. Dalam 6 detik, pemain diharapkan cepat membentuk sebuah formasi pressing. Pemain-pemain terdekat, ke pemegang bola, melakukan (gegen)pressing, dengan harapan musuh melakukan kesalahan, sehingga tim mampu kembali menguasai bola. Coba lihat partai la Liga 2008-2009, Barca 4-0 Valencia, atau, Barca 3-1 MU (Final LC 2011), di partai-partai ini peraturan 6 detik benar-benar dijalankan dengan coeiamoeik.

Dalam tatik Klopp, konsep ini Seakan-akan tampil lebih ekstrem. Mungkin karena bawaan fisik orang-orang Jerman yang “lebih seram” ketimbang pemain-pemain lulusan la Masia. Mungkin. Klopp berkata, saat terbaik untuk kembali merebut bola, adalah saat tim kehilangan bola, karena saat itu musuh baru mulai mikir, bola mau dikemanain. Klopp maunya, saat kehilangan bola itulah, 1-3 pemain terdekat langsung melakukan pressing (bisa dengan body-charge atau sliding-tackle), dengan tujuan utama untuk merebut kembali bola dalam waktu sesingkat mungkin dan langsung selakukan serangan balik secepat mungkin, bila memungkinkan. Gol pertama Henrikh Mkhitaryan ke gawang Arsenal (LC 2013) bisa jadi contoh nyata untuk hal ini.

borussia-dortmund-gegenpressingDipandang dari sisi cara bertahan, Dortmund Klopp dengan Barca Pep memiliki kesamaan pada blok pertahanan. Keduanya sama-sama menerapkan blok pertahanan tinggi. Liat aja posisi berdiri Puyol-Pique atau Hummels-Subotic. Tinggi (jauh dari posisi kiper), dan, bahkan, sering kali melewati garis tengah masuk ke dalam zona musuh. Fungsi utamanya jelas, supaya penguasaan bola sebanyak mungkin bersirkulasi di sekitar area musuh.

Sedikit beda antara Pep dan Klopp, adalah konsep jarak pemain terbelakang dan terdepan. Bagi Guardiola (sama seperti Milan-nya Sacchi), jarak bek dan striker tidak lebih dari 25-30 yard (1 yard = 91,44 cm). Tujuannya jelas, Pep dan Sacchi maunya meminimalisasi ruang kosong (vulnerable space) dan memaksimalkan kemungkinan berhasilnya umpan-umpan pendek. Tik-tak dan corto stretto. Beda dengan Klopp, dia nggak mau ekstrem dengan umpan-umpan pendek. Tetapi banyak dikombinasi dengan umpan-umpan jauh (umpan langsung dari belakang). Klopp mengakui, pada dasarnya dia ini penggemar umpan pendek, tetapi sangat “tdk bermasalah” untuk banyak memainkan umpan langsung (jauh). Hasilnya, banyak umpan 1-2, kombinasi umpan langsung dan pemain yg “dipaksa” sprint. Cara ini (kebetulan) sangat cucok bila digunakan dalam taktik serangan balik cepat. Dalam satu momen, Dortmund tampaksangat rapat secara vertikal. Di momen lain, posisi antar pemain bisa tiba-tiba melebar dikarenakan mereka memainkan umpan-umpan jauh.

Sejauh ini, Dortmund merupakan ahlinya fast-break. Coba lihat gol Robert Lewandowski ke gawang Marseille di match day 2 LC, di fase grup. Saya hitung, hanya butuh 16-17 detik dari pemain pertama yang merebut bola, untuk selanjutnya dilanjutkan oleh empat pemain lainnya sampai terjadi gol dan membungkam mulut pendukung Marseille. Atau yang lebih ekstrem, gol kedua Dortmund ke gawang Napoli (3-1). Terhitung dari Dortmund merebut bola, -+ 10-11 meter di depan gawang Dortmund kemudian digiring oleh Marco Reus sampai Kuba menghajar gawang Pepe Reina, hanya butuh waktu 11-12 detik.

Gegenpressing. Begitu Klopp menyebutnya. Istilah dari bahasa Jerman. Bahasa Inggrisnya, kira2, counterpressing. Bisa diduga, gagasan utamanya, yaitu pressing secepatnya, sesaat setelah kehilangan bola, untuk menghalangi niat lawan melakukan serangan balik (counter). Sebuah gagasan untuk sesegera mungkin menekan musuh begitu tim kehilangan bola dan, bila memungkinkan, melakukan serangan dengan jumlah sentuhan seminim mungkin.

Sebuah dasar pikir hardcore disampaikan Klopp dalam wawancaranya. Vollgasveranstaltungen!! Yang bila diterjemahkan, artinya, kira-kira, kecepatan tinggi dengan semangat menang atau mati, menekankan pada passing, speed, attacking, dan pressuring. Aje buset mah, si Klopp!!

Keunggulan Dortmund sangat dipengaruhi oleh konsep yang “gila” ini. Secara statistik, sampai Desember 2013 (setelahnya, saya belum update lagi), Dortmund merupakan tim dengan jumlah tembakan dari dalam kotak penalti plus blocked-shot terbanyak. Yang artinya, mereka ini merupakan tim paling ahli dalam mengkreasi kesempatan tembak maupun melakukan tembakan tepat sasaran, yang dilakukan di dalam kotak penalti lawan. Tetapi, anehnya, dengan keunggulan statistik macam begini, sementara ini, Dortmund “hanya” berada di posisi ke-3 Bundesliga. Apa artinya? Artinya, Dortmund (terlalu) banyak membuang kesempatan. Lihat partai Dortmund 0-3 Bayern 2013. Man of the Match (MoM)-nya Manuel Neuer. Kenapa? Karena Neuer banyak melakukan penyelamatan spektakuler, mementahkan tembakan tepat sasaran berkualitas half-chance dan clear cut chance.

Apa pun pendapat orang, Jurgen Klopp (harus diakui) merupakan the phenomenon one (meminjam salah satu julukan milik Ronaldo Nazario). Ntah revolusi atau evolusi atau apa tau, yang pasti, Klopp sudah banyak mempengaruhi sepakbola modern yang penuh kecepatan dan intensitas. Jupp Heynckes (saat membawa Bayern Treble 2013), suka gak suka, harus diakui, juga mengadaptasi apa yang dilakukan Klopp. Gegenpressing menjadi salah satu senjata Bayern.

Sejauh mana Dortmund bisa melangkah ke depannya, patut ditunggu. Sejak “kegemparan” 2012-2013, Dortmund telah bertransformasi dari sekedar black horse menjadi team to beat. Jelas, ini berat. Ditambah moncer-nya Bayern, Real Madrid, Barcelona, Chelsea, sampai Atletico Madrid, semua ini menambah rintangan dalam perjalanan Dortmund.

Dan yang paling berat, sudah pasti, adalah apa yang bersumber dari dalam tim. Mario Gotze dibeli Bayern per musim 2013-2014. Yang ngikutin bagaimana Dortmund bermain, pasti paham kualitas Gotze. Yang paling celaka, musim ini badai cedera menggila. “Dinamo” mereka di lini tengah, Ilkay Gundogan, masih cidera sejak pekan pertama Bundesliga. Neven Subotic dan Kuba juga cidera sampai akhir musim. Marcel Schmelzer dan Lukas Pizczek, bek kiri dan kanan, baru mulai bermain setelah cidera selama 4 sampai 6 bulan. Mats Hummels juga mengalami cidera panjang. Yang terbaru, Sven Bender cidera dan harus dirumahkan selama 8-10 pekan. Dan yang terakhir, Robert lewandowski, kabarnya, signed by Bayern per 2014-2015!! Habis.
lewandowski-gotze-reus-dortmundSalam damai. Salam sepak bola, Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s