Analisis Taktik Dalam Sepak Bola

Analisis taktis telah berakselerasi begitu cepatnya dalam 2-3 tahun terakhir. Dari sebuah kegiatan konfidensial yang dilakukan oleh sebagian orang dari departemen tertentu dalam sebuah tim, menjadi sesuatu yang generik, yang mudah ditemui dalam berbagai tulisan maupun diskusi santai. Di luar negeri (Eropa dan Amerika latin terutama), analisis taktis telah menjadi pemandangan umum dalam komunitas sepak bola di sana. Bagaimana di Indonesia?

Ketika membicarakan analisis taktis sepak bola, terdapat dua hal umum yang sering kali dipertanyakan. Pertama, bagaimana melakukan analisis taktis. Pertanyaan ini diajukan karena (kebanyakan) si penanya tidak tahu harus memulai dari mana dan apa yang sebaiknya diamati. Pertanyaan kedua (juga bisa berarti pernyataan) yang sering diajukan adalah apakah sebuah tulisan (analisis) bisa disebut sebagai analisis. Apakah sebuah tulisan cukup memenuhi persyaratan untuk disebut analisis taktis. Pertanyaan (pernyataan) ini timbul setelah membaca sebuah tulisan analisis taktis yang, oleh si pembaca, dirasa memiliki kekurangan spesifik di beberapa bagian tulisan.

Definisi strategi dan taktik

Sebelum berbicara jauh soal analisis (taktis), ada baiknya memahami apa itu taktik serta apa itu strategi. Menurut situs kbbi.web.id, strategi bisa berarti
1) Ilmu dan seni memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dl perang, dl kondisi yg menguntungkan
2) Rencana yg cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus
3) Tempat yg baik menurut siasat perang

Taktik sendiri, oleh kbbi.web.id, bisa diartikan sebagai rencana atau tindakan yg bersistem untuk mencapai tujuan; pelaksanaan strategi; siasat.

Dari pemaparan di atas didapatkan kesimpulan sederhana bahwa strategi merupakan pendekatan umum dalam kaitannya mencapai tujuan tertentu, sementara taktik merupakan cara spesifik yang dipilih demi keberhasilan strategi. Penentuan strategi sendiri dilakukan berdasarkan analisis pemecahan masalah.

Misalnya, seorang desainer interior diminta untuk mendesain ulang sebuah toko pakaian dalam sepak bola. Setelah dilakukan studi lapangan, seperti melakukan wawancara dengan karyawan serta pemilik dan melihat secara langsung perilaku pengunjung toko, sang desainer mengidentifikasi permasalahan ada pada sirkulasi. Identifikasi ini berdasarkan pembagian area pajang serta pengelompokan barang jual yang tidak terencana (sehingga tidak diterapkan dengan tepat), ruang gerak antar pemajang yang terlalu kecil (mengganggu ergonomi pengguna ruang), dan pencahayaan yang tidak memadai.

Dari identifikasi permasalahan, desainer menetapkan perbaikan sirkulasi sebagai strategi. Taktik yang digunakan demi keberhasilan perbaikan sirkulasi adalah :

1) Merekayasa ulang pembagian area dan pengelompokan barang jual. Contoh, pengelompokan pakaian dalam berwarna merah berbasis sebuah klub Jerman terkaya dan terdepan dengan harga mahal diletakan di bagian tengah agak ke dalam. Sementara pakaian dalam produksi ber-merk Branden Redgors yang paling murah dan berwarna terang-benderang diletakan di area depan.

2) Mendesain ulang pemajang dengan ukuran yang mengacu pada rasio emas dan ergonomi ruang gerak manusia. Ini ditujukan agar pemanfaatan ruang menjadi maksimal dan pengguna ruang tidak merasa sesak.

3) Menata ulang pencahayaan yang ditujukan untuk merekayasa alur sirkulasi, mengekspos area-area tertentu yang merupakan zona produk unggulan, serta menciptakan suasana yang lebih hangat demi kenyamanan semua pengguna ruang.

Cara berpikir yang identik bisa dijumpai dalam sepak bola. Katakan seorang manajer memerlukan data calon lawan. Untuk itu, ia meminta opposition-analyst (kalau ada) untuk mengumpulkan semua data yang diperlukan, untuk kemudian dari data yang masuk manajer bisa menentukan apa saja strategi yang akan digunakannya. Contoh, karena manajer melihat (berdasarkan masukan opposition-analyst) lawan sangat rentan di lini tengah, ia memerintahkan anak asuhnya untuk berfokus menyerang melalui zona 8, 11, dan 14, yang kebetulan kesemuanya merupakan zona yang terletak di tengah. Dengan detail taktik :

1) Melakukan pressing intensitas tinggi di zona-zona tersebut saat tim sedang tidak menguasai bola dengan cara menginstruksikan dua pemain sebagai presser utama terhadap pemegang bola dan 2-3 pemain lain sebagai pressing-cover yang bertugas menutup semua jalur umpan yang ada.

2) Setiap kali berhasil merebut bola, fokus serangan berfokus ke poros tengah dengan cara 4 pemain menciptakan formasi mini berlian untuk mendukung progresi bola yang “bersih”. Formasi berlian didukung oleh masing-masing 1 pemain di kedua sisi sayap (di luar formasi berlian) yang bergerak maju secepatnya untuk memecah kompaksi horisontal lawan dengan harapan lawan meninggalkan ruang yang lebih besar di area tengah.

3) Penyerang diminta ikut dalam fase satu sampai dengan tiga serangan dan berperan sebagai pemain terdepan dari formasi mini berlian tadi. Sementara satu gelandang berperan sebagai nomor 6 dan dua pemain lainnya berada pada masing-masing sisi kiri dan kanan dari formasi mini berlian.

Strategi dan taktik merupakan dua hal yang akan selalu ada dalam setiap elemen klub sepak bola. Mulai dari manajemen, departemen khusus, staf kepelatihan, sampai pertandingan itu sendiri. Lantas, kalau keduanya selalu hadir dan berinteraksi satu dengan yang lain, kenapa muncul istilah analisis taktis? Kenapa bukan analisis strategis? Apa jawaban pasti dari pertanyaan ini, saya belum tahu (kecuali anda punya jawaban sendiri). Salah satu kemungkinan yang masuk akal sebagai jawaban pertanyaan ini adalah karena yang dianalisis adalah taktik, yaitu detail-detail yang membangun strategi. Saat seorang analis memahami bahwa Ange Postecoglu (Australia), Thomas Tuchel (Borussia Dortmund), dan Josep Guardiola (FC Bayern) sama-sama memainkan gegenpressing, yang harus mereka temukan dan pahami adalah kenapa ketiga manajer tersebut memainkan gegenpressing dan bagaimana struktur masing-masing gegenpressing serta apa saja peran setiap pemain di dalam struktur. Sang analis dituntut untuk mengidentifikasi sistem dan organ-organ yang bekerja di dalamnya. Yang dari organ-organ pembangun inilah sepak bola menyebutnya sebagai “taktik”.

Memahami makna analisis

Pertanyaan tentang bagaimana melakukan analisis taktik sering kali diikuti dengan pernyataan bahwa yang paling sulit adalah “melihat” detail taktik. Yang paling sulit adalah berasumsi dan mengambil kesimpulan bagaimana, secara taktis, kedua tim memainkan sepak bola mereka. Yang jadi poin di sini, adalah sudah tepatkan pernyataan ikutan tersebut?

Dalam bertanya dan mencari pemahaman, terkadang manusia tidak menyadari ada proses berpikir dari dirinya yang hilang dalam usahanya untuk mendapatkan apa yang dicarinya. Semua orang pernah mengalaminya. Semua orang. Saya, mereka, anda, Guardiola, Jose Mourinho, atau Albert Einstein.

Maksudnya begini. Analisis taktik pada dasarnya merupakan kebutuhan bagi seorang juru taktik sepak bola dalam menentukan strategi dan taktik agar timnya mampu menghancurkan calon lawannya. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, ia didukung oleh seorang opposition-analyst yang bertugas mengumpulkan data-data lawan untuk kemudian menyerahkannya kepada juru taktik. Dengan memakai acuan ini, sebuah analisis taktis adalah pekerjaan melakukan analisis demi kepentingan pihak kedua (bila sang analis dianggap sebagai pihak pertama maka manajer merupakan pihak kedua).

Logika berpikir paling dasar ini yang bisa kita gunakan sebelum melangkah ke kegiatan melakukan analisis itu sendiri. Kita pahami bahwa analisis merupakan sebuah usaha dalam menemukan detail taktik lawan yang sekaligus akan digunakan oleh juru taktik sebagai bagian dari penentuan strategi dan taktik. Karena itu saat anda menyaksikan pertandingan, menganalisis, lalu menuliskannya, anda perlu mengidentifikasi apa yang anda akan jadi fokus pengamatan dan bagaimana cara menuliskannya. Apakah sebatas sistem pertahanan tentang bagaimana tim lawan menerapkan zonal marking atau sebatas bagaimana baiknya struktur sebuah tim saat mereka bertransisi bertahan. Tapi satu hal yang terpenting, apa pun yang anda amati dan tuliskan, pesan yang anda maksudkan tersampaikan kepada pihak lain.

Dengan memahami tujuan utama dan pentingnya tujuan analisis taktis, anda sedang membangun kerangka dan acuan sebelum melangkah ke bagian selanjutnya. Yaitu melakukan analisis.

Hal-hal yang bisa membantu dalam melakukan analisis

Mengetahui dan memahami teori terkait.

Dalam praktik disiplin ilmu apa pun, pengetahuan dan pemahaman mendalam akan teori dasar terkait bisa sangat membantu seseorang “membaca” lebih cepat ketimbang mereka yang tidak. Contoh, dengan memahami ciri-ciri yang membedakan zonal-marking man-oriented (zonal-marking yang berorientasi kepada penjagaan individu) dengan man to man marking, anda bisa lebih cepat berkata, “ah, ini dia zonal-marking man-oriented bukan man to man marking, gan”. Pemahaman sejenis ini akan sangat membantu walau pun sebenarnya bukan berarti mereka yang memiliki pengetahuan terkait selalu lebih baik dibandingkan mereka yang tidak.

Poin yang ingin disampaikan di sini adalah ada baiknya anda memahami berbagai istilah teknis/teori sepak bola untuk membantu anda dalam menganalisis. Beberapa contoh istilah teknis di antaranya, adalah area gawang, build-up, byline, touchline, triangle offense, triangle defense, dan lain-lain. Pentingnya memahami (walau pun, sekali lagi, bukan yang paling penting) selain membantu anda “membaca” lebih cepat juga membantu anda dalam menyampaikan hasil analisis (akan dibahas di bagian lain tulisan).

Dukungan statistik.

Faktor ini juga diperlukan sebagai keperluan membandingkan apa yang anda baca dengan apa yang diinterpretasikan oleh statistik. Anda melihat Matthias Ginter merupakan pemain Dortmund paling banyak melakukan kesalahan umpan dalam fase pertama serangan. Untuk memastikan asumsi awal tersebut, anda bisa bandingkan dengan statistik umpan suksesnya ketika ia terlibat dalam fase pertama serangan. Melalui perbandingan yang kontekstual anda bisa meyakinkan diri anda sendiri (terlebih dahulu) bahwa asumsi awal anda valid.

Yang perlu diperhatikan, anda harus menggunakan statistik sesuai dengan konteksnya. Bila anda melakukan analisis statistik terhadap umpan sukses Ginter dalam fase pertama serangan, tetapi data yang anda ambil adalah peta umpan Ginter ketika Dortmund berada dalam fase pertama hingga ketiga serangan (penciptaan peluang), sejatinya basis data yang anda gunakan tidak valid. Karena, sangat mungkin, struktur pressing lawan dan struktur posisi menyerang Dortmund sangat berbeda saat itu, yang menyebabkan banyak variabel kajian yang berbeda yang harus anda pertimbangkan.

Kajian dengan logika berpikir yang sama bisa anda ambil ketika mengkaji aksi individual lainnya.

Banyak menonton pertandingan dan memahami cara bermain

Di era sekarang, saat media sosial sudah begitu hebat, kita sebagai pemakainya sudah sangat terbantukan dengan banyaknya situs pengumpul pertandingan dengan durasi video 90 menit penuh. Contoh, anda bisa mengunduh seluruh pertandingan Atletico Madrid dalam satu musim penuh dari livefootballvideo.com untuk kemudian anda simak, catat, dan pahami skema dan ciri-ciri khusus permainan mereka. Dengan menonton (dan memahami) skema bermain Juventus, misalnya, dalam lima pertandingan sebelumnya, akan sangat membantu ketika anda menganalisis pertandingan keenam mereka. Anda akan temui beberapa hal yang sama dan beberapa hal yang ternyata tidak mereka terapkan sebelumya.

Banyak membaca

Selain sudah begitu banyak situs sepak bola yang menyediakan file yang bisa diunduh, melalui internet, anda juga bisa temukan banyak situs yang memuat analisis (yang bersifat teknis). Indonesia memiliki fandom.id dengan beberapa tulisan yang bersifat teknis di “Archieve” taktik, lalu ada dribble9, dan kickoff Indonesia. Hal serupa juga bisa anda temukan di luar negeri, bahkan lebih banyak lagi. Tetapi untuk yang betul-betul bersifat teknis, anda bisa kunjungi spielverlagerung.com, 13stepsco, world class coaching, atau stat bomb, sebagai alternatif.

Banyak berdiskusi

Ini cara yang paling simpel. Manusia menyukai cara ini dikarenakan pikiran dan hati anda akan dengan senang hati berfokus ketika anda mencari pemahaman melalui cara ini. Melalui diskusi (dengan orang yang anda percayai) anda bisa belajar langsung. Anda bisa mengambil kesimpulan langsung tentang bagaimana logika berpikir sang penulis saat ia memulai dan menuliskan hasil analisisnya. Diskusi bisa anda lakukan dengan praktisi, seperti pemain, pelatih, dan analis profesional, jurnalis, atau blogger.

Yang harus diperhatikan dalam analisis taktis

Apa yang anda tulis tersampaikan kepada pembaca

Dalam sepak bola profesional, analisis taktis (terhadap lawan) tidak lain tidak merupakan sebuah laporan teknis yang digunakan sebagai salah satu dasar melakukan persiapan menghadapi lawan/kejuaraan terkait. Bisa jadi, seperti yang disebutkan di atas, terdapat dua pihak atau (bahkan) lebih yang terlibat dan memiliki kepentingan terhadap laporan teknis ini. Karena itu, apa yang anda tulis sudah seharusnya dipahami (tersampaikan) oleh mereka yang berkepentingan (pembaca).

Mengenali taktik, menemukan kekuatan dan kelemahan berdasarkan identifikasi ciri-ciri spesifik bukan perkara mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan oleh semua orang. Menuangkan apa yang anda temukan ke dalam sebuah tulisan merupakan hal yang tidak kalah sulitnya, bahkan dalam level tertentu lebih sulit dari pada proses menganalisis itu sendiri. Saat anda menyerahkan hasil analisis anda kepada manajer tim, isu utama yang ditemui oleh sang manajer bisa jadi adalah ketepatan atau kelengkapan analisis. Kesalahan seorang analis dalam menginterpretasi taktik lawan merupakan bencana. Mendapatkan informasi yang terlalu sedikit pun tidak kalah buruknya dengan salah interpretasi taktik lawan.

Di sisi lain, kurangnya pemahaman istilah teknis sepak bola oleh si pembaca laporan juga bisa menjadi biang masalah sulitnya ia memahami isi laporan. Tapi ini sudah lain cerita. Tidak terlalu banyak yang bisa anda perbuat, sebagai analis, dalam kondisi yang diciptakan oleh faktor eksternal, yang jauh dari kendali anda. Yang anda bisa lakukan dengan semaksimal mungkin adalah menuliskan apa yang anda lihat sebenar-benarnya dengan cara penyampaian yang mudah dipahami dan tepat sasaran. Ini sulit. Bahkan bagi seorang profesional sekali pun atau bagi seseorang yang sudah sangat lihai dalam mengolah kata dan memberikan edukasi, kesulitan-kesulitan serupa sangat mungkin masih akan ditemui. Ini merupakan sebuah proses yang tidak pernah berhenti dan bersifat dinamis, terutama sekali bila analisis dapat diakses oleh lebih banyak pembaca.

Salah satu alternatif (dari beberapa) untuk membantu penyampaian analisis adalah penggunaan istilah teknis yang tepat. Penggunaan istilah teknis bisa mempersingkat penggunaan kalimat. Contoh anda ingin mengatakan “area yang berada di depan lini belakang dan berada di antara lini tengah dan lini belakang”. Untuk mempersingkatnya, anda bisa gunakan istilah berbahasa Inggris intermediate-defense. Untuk membantu pembaca yang belum familiar dengan istilah intermediate-defense anda bisa cantumkan definisi intermediate-defense pada bagian tertentu. Contoh lain, anda ingin menjelaskan bagaimana Pep atau Thomas Tuchel menggunakan dua koridor vertikal yang terletak di antara koridor sayap dan tengah, anda bisa menggunakan istilah half-space untuk mempersingkatnya.

Pendekatan berpikir

Melakukan analisis sebagai usaha dalam mendapatkan informasi yang cukup menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan. Bila seorang analis profesional tidak mampu mendapatkan informasi yang cukup, seperti yang dibutuhkan oleh manajer, permasalahannya ada pada kapabilitas si analis. Tetapi, bila kekurangan seperti yang dimaksudkan teridentifikasi dalam rilisan-rilisan analisis taktis oleh para non-profesional (seperti pengamat sepak bola stasiun televisi atau penulis di situs sepak bola), bisa jadi akar permasalahan terletak pada pendekatan berpikir yang dilakukan si pengamat atau penulis.

Kecenderungan manusia untuk menyimpan dan memunculkan informasi sesuai kekuatan daya ingatnya, menyebabkan manusia cenderung mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang ia simpan dan ia ingat (saja). Contoh, ketika pria A berada di ruang jurnalis dalam sebuah ajang Piala Dunia, lantas ia melihat pria B berkalungkan tanda pengenal jurnalis, pria A sangat mungkin berkesimpulan pria B pasti jurnalis. Kesimpulan ini muncul karena setiap kali ia menjumpai orang yang berkalungkan pengenal jurnalis, orang tersebut merupakan jurnalis. Pengalaman visual semacam ini melekat dalam memorinya, yang pada saatnya ia melihat sesuatu yang baru dan sangat mirip dengan apa yang tersimpan dalam memorinya, ia segera mengambil kesimpulan. Ini merupakan salah satu contoh pendekatan berpikir paling sederhana.

Singkatnya, pendekatan berpikir yang anda ambil sudah jelas mempengaruhi isi tulisan.

Objek yang dianalisis

Membahas objek yang harus diamati saat melakukan analisis akan menjadi sebuah diskusi yang tidak memiliki titik akhir. Untuk itu, di bawah diberikan daftar beberapa tulisan yang bisa anda gunakan sebagai refrensi :
– Gunakanlah kaca mata sepak bolamu http://www.kickoffindonesia.com/#!Gunakanlah-Kacamata-Sepakbolamu/c1vji/55f7c9f90cf2db6dcfb60116
Overloading oleh Qo’id Naufal
Arsenal 0-0 Liverpool oleh Yamadipati Seno, pemilik akun Twitter @arsenalkitchen
Menonton sepak bola dari kaca mata taktik oleh Ganesha Putera Christian, Director Villa 2000
Half-space oleh Ryan Tank

Analisis taktis sebagai bacaan sepak bola

Bila ada dua analisis yang dilakukan dua orang berbeda (dari dua situs sepak bola yang berbeda, misalnya), terkadang, oleh sebagian pembaca, satu dari dua analisis tersebut dianggap “bukan analisis”. Di satu sisi penilaian seperti ini subjektif, tetapi tetap bisa dipahami bila kita melihatnya dari konteks yang sama.

Berikut dua contoh perbandingan kalimat dari dua penulis berbeda.

Penulis pertama :
Untuk menjaga central presence, Thomas Muller – dan terkadang Robert Lewandowski – bergerak turun hingga ke area sentral meninggalkan lini belakang Leverkusen yang diisi oleh Roberto Hilbert, Jonathan Tah, Kyriakos Papadopoulos dan Wendell. Central presence ini sangat penting untuk menjaga agar sirkulasi bola di salah satu sisi lapangan tetap terhubung dengan sisi lainnya –di mana Costa atau Robben berada dalam situasi 1vs1 melawan fullback Leverkusen.
– Qo’id Naufal, Bayern 3-0 Bayer Leverkusen, fandom.id, 3 September 2015. –

Sebagai perbandingan, anda bisa lihat kalimat kedua di bawah, yang merupakan kalimat rekaan demi kepentingan ilustratif, ketika penulis lain menganalisis pertandingan yang sama dari situasi dan menit yang sama.

Penulis kedua :
Bayern memiliki kekuatan yang sangat hebat di tengah. Mereka sangat jarang kehilangan bola akibat lihainya para pemain menguasai bola. Pemain-pemain tengah Bayern juga memiliki kelincahan dan mobilitas yang hebat, buktinya pemain-pemain yang jauh dari bola mampu terus untuk mendapatkan pasokan bola akibat pemain-pemain tengah yang selalu berada di mana pun bola berada. Sementara pemain-pemain belakang Leverkusen sendiri banyak nganggurnya. Belum lagi bek sayap Leverkusen tampak sangat berbeda kelas dengan penyerang-penyerang sayap Bayern, karena dalam hampir setiap duel satu lawan satu bek sayap Leverkusen kalah langkah dan menjadi penyebab utama Bayern mampu memenangkan pertandingan.

Sebagian pembaca mungkin mengatakan kalimat kedua bukan analisis. Karena kalimat yang digunakan, bias. Pertanyaannya, benarkan kalimat dari penulis kedua tidak bisa dianggap analisis?

Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Kenapa? Karena apa yang dituliskan oleh penulis kedua pun pada dasarnya berdasarkan apa yang ia simak. Apa yang ia tulis merupakan hasil analisisnya. Tetapi di sisi lain, bila mengacu ke makna analisis berdasarkan kbbi.web.id, tulisan dari penulis kedua tidak sepenuhnya tergolong sebagai analisis (taktis). Menurut kbbi.web.id, analisis berarti :

1) Penyelidikan thd suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan yg sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dsb).
2) Penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yg tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
3) Penyelidikan kimia dng menguraikan sesuatu untuk mengetahui zat bagiannya.
4) Penjabaran sesudah dikaji sebaik-baiknya
5) Pemecahan persoalan yg dimulai dng dugaan akan kebenarannya

Perhatikan bagian-bagian kalimat yang digaris bawahi dan cetak tebal dari poin 2). Bila mengacu pada kalimat dari penulis pertama, kata-kata yang digaris bawahi dan cetak tebal bisa berarti mengkaji dan mengetahui bagaimana skema Bayern dalam mengokupansi lini tengah (area 8 atau area 10) sebagai bagian dari menjaga kelancaran sirkulasi bola dari satu sisi ke sisi lain. Hal ini menyebabkan pemain-pemain di sayap jauh tetap memiliki “kedekatan” dengan pemain di sisi seberangnya, dikarenakan jembatan yang dibangun oleh oleh Bayern di tengah, tepatnya di area no. 8 atau no. 10. Kandungan detail taktis semacam ini yang tidak ditemui dalam kalimat kedua. Kalimat kedua hanya menyebutkan Bayern memiliki pemain dengan kemampuan mengalirkan bola dari satu sisi ke sisi lain tanpa mengidentifikasi sebab-musababnya.

Identifikasi terhadap sebab-musabab, disertai analisis kekuatan dan kelemahan, serta alternatif lain yang mungkin dilakukan dalam menjalankan strategi terkait merupakan bagian dari kerja opposition-analyst. Detail berbahasa sepak bola merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh sebuah laporan analisis taktis.

Lantas, bagaimana dengan kalimat kedua (dari laporan kedua)? Dalam ranah analisis taktis bersifat bukan-demi-memberikan-pemahaman-teknis, hal ini sah-sah saja. Analisis taktis yang dirilis oleh sebuah tulisan sepak bola merupakan buah dari penjabaran konsep si penulis itu sendiri. Ketika anda mengkonsepkan situs/tulisan anda sebagai situs/tulisan “teknis”, anda perlu menspesifikasi apa saja topik yang akan anda bahas dan memperhatikan penggunaan bahasa dalam tulisan. Anda harus selalu mengacu pada bahasa (teknis) sepak bola dengan konsekuensi tidak semua pembaca memahami sepenuhnya apa yang sanda sampaikan. Tetapi ketika anda mengkonsepkan diri sebagai situs/tulisan “non teknis”, apa yang anda sampaikan, termasuk penggunaan bahasa, bersifat lebih fleksibel. Karena sifatnya bukan untuk pemahaman teknis tetapi lebih pada kebutuhan rekreasi.

Pengunaan bahasa dari penulis pertama merupakan contoh sederhana dari ciri laporan analisis taktis yang ditujukan demi kepentingan pemahaman teknis sepak bola (yang juga merupakan ciri laporan analisis taktis sepak bola dunia profesional). Penggunaan bahasa dari penulis kedua merupakan ciri analisis yang dituangkan dalam tulisan yang bersifat lebih komersil sebagai bagian dari usaha penyediaan bacaan sepak bola. Keduanya sah, bergantung pada konsep mana yang dipilih.

Penutup

Analisis dalam sepak bola merupakan sebuah aktivitas yang kompleks. Sesuatu yang sangat menarik yang selalu berkembang seiring evolusi taktik yang makin cepat berakselerasi. Menjadi penonton yang memberikan dukungan tak bersyarat yang selalu mampu menjaga api semangat bagi sebuah tim untuk selalu berjuang merupakan nikmat yang didapatkan dengan menjadi pendukung fanatik.

Menjadi penonton taktik, memiliki nikmat tersendiri. Ia dapat membantu anda melihat sisi “rahasia” dari sebuah tim. Ia bisa membantu anda memberikan kritik konstruktif yang bersifat teknis terhadap sebuah tim. Sebuah usaha untuk berdiri di sisi objektif yang pada akhirnya bermuara pada harapan yang sama. Sebuah harapan tentang membaiknya kualitas sepak bola yang anda, saya, dan kita semua nikmati. Salam.

Terima kasih atas kunjungannya. Anda bisa jumpai saya di Twitter @ryantank100

*Note : Pada 26 September 2015, tulisan ini sudah dimuat di kickoffindonesia.com milik Bung @ganeshaputera

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s