Der Klassiker : FC Bayern 5-1 Borussia Dortmund

Salah satu pertandingan yang paling dinantikan oleh penikmat sepak bola tersaji tadi malam. FC Bayern menghadapi Borussia Dortmund. Pep Guardiola menghadapi Thomas Tuchel. Sebuah pertarungan antara dua juru taktik yang sama-sama memainkan sepak bolanya dengan juego de posicion sebagai filosofi taktik, sebuah filosofi yang terbangun dari struktur posisi spesifik yang (salah satu) tujuan utama mendapatkan superioritas posisional maupun superioritas jumlah. Pep mempopulerkannya dan Tuchel, selama masa cutinya 1 tahun kemarin, terindikasi secara khusus mempelajari juego de posicion.

Susunan pemain

Beberapa perubahan dilakukan oleh kedua juru taktik. Pep kembali memainkan pola dasar 3 bek yang secara umum bisa dikategorikan sebagai pola dasar 3-3-3-1 asimetris. Xabi Alonso memerankan no. 6 yang bukan hanya sebagai deep lying midfielder tetapi juga sebagai cover bagi Javi Martinez yang beberapa kali maju ke depan membantu mengkreasi permainan Bayern dari deeper middle-third. Jerome Boateng dan David Alaba sendiri berperan sebagai bek tengah yang beroperasi di masing-masing half-space.

Philip Lahm memainkan peran hibrida gelandang tengah no. 6/bek sayap yang ruang operasinya berada di sisi kanan, terutama half-space. Thiago Alcantara bermain sebagai gelandang tengah no. 8 dengan pergerakan yang banyak dimulai dari sisi kiri, bergerak ke upper middle-third baik half-space maupun center. Di sisi sayap, Douglas Costa dan Mario Gotze diplot di masing-masing sisi kiri dan kanan. Costa sendiri terlihat lebih kepada penyerang kiri, sementara Gotze bisa dikategorikan sebagai gelandang sayap kanan karena starting position-nya lebih deep ketimbang Costa. Di tengah, Thomas Muller beroperasi di belakang no. 9 dengan kecenderungan area kerja di sisi kanan, baik half-space maupun flank. Robert Lewandowski merupakan pemain lain yang beroperasi di tengah. Namun pergerakannya tidak hanya terpatok di tengah. Sering kali ia bergerak melebar ke kedua sisi lapangan berusaha menyeimbangkan struktur serang Bayern dengan membantu menciptakan overloading yang menjamin progresi bola yang “bersih”.

Dari Dortmund, Thomas Tuchel membuat perubahan besar dan cukup mengejutkan. Orientasi serangan sayap serta sirkulasi dengan kecepatan bola yang dinamis milik Bayern tampaknya membuat Tuchel memeras otak lebih kali ini. Bila biasanya Dortmund terlihat memainkan sepak bola mereka berdasarkan pola dasar 4-1-4-1/4-2-3-1, kali ini struktur Dortmund lebih ke 4-1-2-1-2/4-3-2-1/4-3-1-1-1 asimetris. Agak sulit menerjemahkannya dengan label angka, seperti juga formasi milik Bayern, tetapi bisa dideskripsikan.

Saat menyerang, terutama ketika masih berada dalam fase transisi, Pierre Emerick Aubameyang lebih banyak mengisi half-space kanan sementara Henrikh Mkhitrayan di half-space kiri. Bahkan sering kali keduanya bergerak dari area yang lebih lebar, tujuannya jelas berusaha mendestabilisasi kompaksi di central pertahanan Bayern dengan cara merenggangkan jarak di antara para bek Bayern. Shinji Kagawa menjadi no. 10 yang difungsikan sebagai katalis lini depan dan tengah, yang juga digunakan sebagai salah satu akses vertikal Dortmund, meneruskan progresi yang dimulai oleh poros Julien Weigl dan Ilkay Gundogan dari area no. 6 dan no. 8.

Saat bertahan, Dortmund memulainya dengan melakukan pressing blok tinggi. Duet Aubameyang dan Mkhitaryan mengisi gelombang pertama pressing dengan Kagawa memberikan support di belakang keduanya yang pergerakan bertahannya berorientasi pada no. 6 Bayern, yaitu Xabi Alonso. Gundogan, Weigl, dan Gonzalo Castro berdiri di belakang Kagawa, namun tetap memiliki fleksibilitas pergerakan pressing, terutama Castro dan Gundogan yang memiliki akses terdekat ke pemain-pemain Bayern yang beroperasi di sekitar half-space dan flank. Di belakang, Tuchel memainkan Sokratis Papathatospoulos dan Lukas Piszczek di sisi kanan dan kiri. Mengapit dua bek tengah, yaitu Mats Hummels dan Sven Bender.

susunan-pemain
Susunan pemain Bayern vs Dortmund

Pertandingan

Salah satu orientasi serangan Dortmund adalah memanfaatkan kecepatan kedua pemain terdepannya, yaitu Mkhitaryan dan Aubameyang. Seperti yang disebutkan di atas, kedua pemain terdepan Dortmund kerap kali mengambil posisi di wide-area. Taktik ini menemukan efek maksimumnya pada gol yang dicetak oleh Aubameyang. Umpan silang Castro dari half-space kanan ke tiang jauh merupakan buah pergerakan Aubameyang dari flank kiri yang memberikan kesempatan bagi Dortmund untuk memainkan umpan diagonal.

Secara umum, isu build-up terlihat dalam permainan Dortmund. Mereka yang terkenal memiliki pola progresi cair yang berporos pada Weigl, Gundogan, dan Kagawa dari deep-area kemudian berlanjut ke upper middle-third untuk mengeksploitasi half-space, kesulitan menemukan kesempatan serupa kali ini. Karena Bayern berusaha habis-habisan untuk melakukan overloading di sekitaran sepertiga awal dan deeper middle-third Dortmund. Bayern menjaga kompaksi ekstremnya di area ini dengan cara mengokupansi 3 ruang horisontal terdekat dengan bola, yaitu flank, half-space, dan center.

pressing-bayern
Pressing Bayern mengokupansi 3 area terdekat di mana bola berada menciptakan kompaksi yang ekstrem.

Pressing seperti ini berhasil menutup akses ke area tengah dan kalau pun Dortmund berhasil keluar dari perangkap pressing kebanyakan mereka bisa melakukannya dengan berprogresi melalui flank. Pressing dengan kompaksi ekstrem seperti dalam grafik di atas juga mengurangi kesempatan lini tengah Dortmund untuk melakukan progresi cepat yang biasa mereka lakukan. Keberhasilan Bayern mengurangi progresi Dortmund ini juga membuat Dortmund kehilangan kesempatan membentuk superioritas posisional yang sering mereka ciptakan di sepertiga pertahanan lawan di celah vertikal antara lini tengah dan belakang. Seperti yang ditunjukan oleh grafik di bawah.

dortmund-mengokupansi-celah-vertikal
Empat pemain Dortmund mengokupansi celah vertikal antara lini tengah dan belakang Borussia Monchengladbach.

Dalam kondisi pressing blok tinggi yang berbeda, misalnya Dortmund berhasil mengembangkan build-up dan membentuk formasi melebar yang juga berarti memaksa bentuk pressing Bayern menjadi lebih lebar, salah satu hal yang dilakukan Bayern adalah membentuk pola two-forward pressing yang di-support oleh pressing-covering dari no. 10 mereka yang menutup jalur umpan kepada no. 6 Dortmund (Weigl). Dalam kondisi ini, yaitu ketika deep build-up Dortmund menerima pressing dari lawan, Aubameyang menjadi pemain yang kerap kali digunakan sebagai outlet keluar dari pressing. No. 9 Dortmund tersebut dropped deep ke area 8 untuk menerima third line passing dari Hummels, misalnya. Tapi dalam pertandingan menghadapi Bayern, taktik ini nyaris tak terlihat akibat Bayern yang sudah mengantisipasinya sejak dini.

Ketika Dortmund mampu mencapai area pertahanan Bayern dan Bayern berada dalam kondisi bertahan dengan blok rendah, formasi dasar Bayern adalah 3-3-3-1/3-4-3. Bergantung pada posisi bola berada, Gotze, Costa, atau bahkan Muller terlihat melibatkan diri di dalamnya, membantu Bayern menciptakan overloading yang kuat. Sekali lagi, cara ini menghambat rencana eksploitasi celah vertikal di antara gelandang dan bek yang sering kali dilakukan dortmund. Overloading yang menciptakan kompaksi kuat ini yang mengawali gol kedua Bayern, setelah Lahm berhasil me-recovery bola liar hasil tackle Douglas Costa pada Castro. Umpan terbosannya mencapai Thomas Muller yang ikut turun dan memulai gerak serangnya dari deep middle-third.

Bayern sendiri bukannya tanpa masalah. Salah satu isu yang teridentifikasi sejak awal adalah isu dalam deep build-up mereka. Javi martinez yang menjadi poros tengah dalam bentuk dasar 3 pemain belakang sering kali terlihat mengambil keputusan terlalu lama dalam mengalirkan bola. Ia terlihat menyentuh bola terlalu banyak dari yang seharusnya dilakukan oleh seorang ball playing defender, bahkan terkadang Martinez hanya mampu melakukan umpan horisontal dan back-pass (yang berarti menghambat progresi). Dalam merespon isu ini, kerap kali Xabi turun ke lini belakang yang memungkinkan dirinya menjembatani progresi yang seharusnya dilakukan oleh Javi. Xabi drop off ke lini belakang dan membentuk superioritas jumlah (4v3 untuk Bayern) menghadapi pola pressing 3 pemain depan Dortmund. Dengan ini, Javi mendapatkan jalan keluar untuk menggerakan bola ke area depan (progresi).

Dalam fase selanjutnya, saat berhasil mengalirkan bola ke sepertiga awal Dortmund, Bayern memainkan orientasi serangan sayap yang lebih banyak menciptakan peluang dengan cara melakukan umpan silang baik mendatar maupun melambung.

Terkait isu dalam fase deep build-up tadi, selepas 10 menit pertandingan, Pep men-switched posisi Javi dengan Boateng, dengan harapan Boateng mampu mengkreasi pola progresi yang lebih cepat dan “bersih”. Boateng dikenal sebagai salah satu bek tengah tercepat di dunia juga sekaligus memiliki akurasi umpan jauh yang sangat baik (lasser-pass). Dari kemampuan inilah, Bayern beberapa kali mengancam pertahanan Dortmund yang memainkan pertahanan blok tinggi. Dengan lasser-pass-nya Boateng mampu segera mengirimkan umpan dari deeper middle-third langsung ke sepertiga awal Dortmund.

Perubahan line-up babak kedua

Di babak kedua, Tuchel memainkan Marco Reus dan Adnan Januzaj, perubahan formasi terjadi. Dari kubu Bayern, perubahan juga dilakukan oleh Pep (yang sebetulnya sudah sejak akhir babak pertama dilakukan). Dortmund yang tadinya memainkan formasi dasar 4-1-2-1-2/4-3-1-1-1 bertransformasi menjadi 4-3-3/4-1-4-1. Bayern sendiri yang tadinya memainkan pola dasar 3 bek, sekarang bertransformasi dengan bermain dalam pola dasar 4 bek, menjadi 4-2-3-1/4-4-1-1.

susunan-pemain-babak-kedua
Susunan pemain babak kedua.

Efek lasser-pass Boateng langsung terasa kembali di detik ke-15 babak kedua. Umpan jarak jauhnya berhasil mencapai Lewandowski yang berada di sepertiga awal pertahanan Dortmund. Skor berubah menjadi 3-1 dan bisa dikatakan “mengakhiri” perlawanan Dortmund. Gol Bayern yang bersumber dari lasser-pass Boateng ini juga dikarenakan oleh kurangnya intensitas pressing di lini pressing pertama Dortmund trehadap lapis pertama build-up Bayern. Berbeda dengan Bayern yang mampu terus mempertahankan intensitas pressing blok tinggi yang berbasiskan three-forward pressing, yang selalu mendapatkan covering yang memadai dari lini di belakangnya. Peluang clear cut chance Gotze menit ke-55 bisa menjadi contoh. Sebuah pressing memaksa Roman Burki melepaskan umpan jauh. Bola jatuh di middle-third dan di-recovery oleh Gotze. Segera, bola diarahkan ke Lewandowski yang akhirnya berujung pada tendangan Gotze yang melambung.

mapping-expected-goal-michael-caley
Mapping expected goal Michael Caley. Banyaknya kubus menunjukan jumlah tembakan, besaran kubus mengindikasikan kualitas (besarnya) peluang berdasarkan area-area di mana tembakan dilakukan dan Bayern lebih unggul dalam kategori ini. Area-area tersebut dinamakan danger zone (DZ).

peta-danger-zone-michael-caley
Peta danger zone. Zona 1, 2, dan 3 dihitung sebagai danger zone yang paling “membahayakan”.

Kesimpulan

Salah satu kekurangan Bayern di musim lalu, ketika duet Robbery mengalami cidera panjang, adalah berkurangnya (secara drastis) kemampuan Bayern dalam melakukan penetrasi (dribbling dan umpan) ke sepertiga pertahanan lawan dan DZ. Di musim ini, saat awal Robben kembali cidera, statistik Bayern terkait penciptaan peluang dari DZ juga termasuk rendah. Kenapa? Karena Pep memainkan orientasi serangan sayap dengan frekuensi tinggi yang tipe penciptaan peluangnya banyak melakukan umpan silang melambung langsung dari sayap ke kotak penalti. Sebagai sebuah taktik “baru” dalam kamus taktik Pep, Bayern tampak masih beradaptasi, di sisi lain cara penciptaan peluang seperti ini juga lebih mudah diantisipasi lini belakang lawan, ketimbang melakukan umpan pendek atau penetrasi dari area tengah. Semua ini pada akhirnya mengurangi kualitas “kengerian” serangan mereka.

Di pertandingan ini, walau pun tembakan Bayern banyak dilakukan dari DZ 1, 2, atau 3, sulitnya mendapatkan eksekusi peluang dengan cara melepaskan umpan silang melambung mau pun mendatar dari flank ke dalam kotak 16 masih terasa. Bayern mendapatkan “kemudahan” dalam memainkan skema ini setelah Dortmund diharuskan mengejar defisit dua gol yang pada gilirannya melonggarkan kompaksi di pertahanan mereka.

Lepas dari sulit tidaknya Bayern memainkan strategi “eksploitasi sisi sayap lawan” mereka, Pep menunjukan bahwa dirinya memiliki begitu banyak ide taktikal yang aplikatif. Bila di Barca dan awal kepelatihannya di Bayern ia bersikukuh dengan “peraturan 15 umpan”nya, sekarang hal tersebut sudah tidak tampak. Bila sebelumnya Pep banyak menggunakan taktik isolasi (spesifik) dengan cara overloading satu sisi demi membuka celah bagi free-man di sisi underloading, sekarang pun hal tersebut tidak terlalu banyak terlihat (dikarenakan Arjen Robben tidak banyak bermain). Semakin ke sini, Pep menunjukan juego de posicion-nya mampu digabungkan dengan cara serang khas Jerman yang berintensitas tinggi terutama sekalu ketika bola sudah berada di sepertiga pertahanan lawan.

You can follow me on Twitter @ryantank100

Advertisements

One thought on “Der Klassiker : FC Bayern 5-1 Borussia Dortmund

  1. Pingback: Meraba Arah Wenger: Jelang Arsenal v Bayern Munich | arsenalskitchen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s