AC Milan 2-1 AS Roma : Struktur Pertahanan Milan dan Keisuke Honda

bentuk-dasar
Bentuk dasar

Milan bermain dengan bentuk dasar 4-3-3/4-5-1, bergantung pada fase permainan yang dilakukan. Sementara, AS Roma sendiri juga bermain dengan pola yang sama 4-3-3 yang bertransformasi ke 4-5-1 bila Roma sedang dalam fase bertahan menggunakan blok rendah.

Banyak kritik yang diarahkan ke kubu Milan, apalagi ditambah kegagalan memetik kemenangan dalam r partai terakhir. Tapi, dengan menyaksikan pertandingan ini, kritik pada Milan terkesan salah alamat. Kenapa? Karena, mereka bermain dalam struktur permainan yang rapi. Para pemain tampil dalam disiplin taktikal dan terutama, posisional yang baik. Mari kita lihat bersama-sama bagaimana Milan memainkan sepakbola mereka.

3 fase utama struktur pertahanan

Ada 4 fase bertahan Milan dalam pandangan saya. 3 fase pertama merupakan fase yang sangat penting dan menentukan bagaimana fase ke-4 sebaiknya dieksekusi.

struktur-pertahanan-milan-fase-1
Struktur pertahanan Milan fase I. Fase yang dilakukan ketika AS Roma mendapatkan goal-kick. Tujuannya jelas, memaksa kiper atau pemain belakang Roma melepaskan umpan jauh, yang besar kemungkinan salah atau kurang tepat sasaran. Bentuk dasar 4-1-2-3 digunakan Milan dalam fase ini.

struktur-pertahanan-milan-fase-2
Struktur pertahanan Milan fase II. BIla ternyata Roma mampu lolos dari fase pertama pertahanan Milan dan bahkan memainkan bola pendek yang perlahan memasuki area tengah lapangan (middle third), Milan segera bertransformasi bentuk. 4-5-1/4-1-4-1.

Dalam gambar di atas, bola berada di half space kanan pertahanan Milan. Orientasi pertahanan Milan, secara otomatis,lebih ke sisi kanan lapangan. Panah merah merupakan indikasi penjagaan Milan terhadap pemain-peman Roma. Pada Keisuke Honda anda bisa melihat ada 2 indikasi panah. Itu menunjukan, Honda tidak hanya berfokus pada pemain sayap Roma. Tetapi, ia juga harus (dan mengutamakan) keamanan area dalam (half space) di sekitar area bermain masing-masing pemain. Pemain sayap Milan akan tingkatkan intensitas pressing ketika pemain sayap Roma mendekati 1/3 pertahanan Milan. Di luar itu, Honda atau Bonaventura lebih banyak membayang-bayangi pemain Roma dan menjaga jarak pressing.

struktur-pertahanan-milan-fase-3
Struktur pertahanan Milan fase 3. Momen di mana bola yang dikuasai pemain Roma berada di kanan luar (touchline) Milan.

Ignazio Abate, Andrea Poli, dan Keisuke Honda membentuk formasi pressing dan ciptakan situasi 3 v 2 menghadapi 2 pemain Roma. Sementara di area tengah (zona 5), 5 pemain Milan memadati area tersebut untuk menghadapi 2 pemain Roma. Dalam fase ke-tiga ini, Milan akan berusaha mendorong Roma untuk tidak lakukan pergerakan vertikal atau horizontal masuk ke kotak penalti. Ini jadi alasan kenapa Milan bermain begitu deep. Dengan mereka berhasil menghentikan umpan/pergerakan pemain-pemain Roma ke dalam kotak penalti, Milan tidak perlu masuk ke bentuk pertahanan fase ke-4. Fase ke-4 sendiri adalah fase di mana pemain-pemain belakang Milan harus membuang bola hasil umpan silang atau memblok tembakan pemain Roma dari dalam kotak penalti.

Satu hal menarik dalam pertahanan Milan adalah, pergerakan Destro (striker tunggal Milan). Ia banyak bergerak ke dalam pertahanan sendiri dan membentuk pola 6 gelandang, yang membuat Milan bermain dengan formasi tanpa striker (strikerless).

Pertahanan Milan fase dua yang pada akhirnya memberikan kontribusi pada gol pertama Milan. Jebakan pressing Milan ada pada Destro. Sering kali terlihat, Destro mengambil posisi di belakang pemain Roma yang dekat dengan garis tengah (pemain yang berposisi paling bawah dari lapis horizontal formasi serangan Roma). Dalam kondisi ini, siapa pun pemain Roma terkait serta Destro sendiri berposisi menghadap gawang Milan. Bila saat itu si pemain Roma (yang dekat dengan Destro) menerima bola back pass dari lini di depannya, sangat mungkin ia tidak menyadari kehadiran Destro di belakangnya. Inilah yang terjadi dalam gol pertama Milan. Miralem Pjanic yang menerima bola tidak menyadari kehadiran Destro (yang menjaga jarak pressing dengan baik). Hasilnya, Destro merebut bola dan Milan lakukan gegenpressing yang tepat. Kemudia, bola disodorkan pada Keisuke Honda yang berujung pada gol van Ginkel.

awal-mula-gol-milan
Awal mula gol Milan. Destro dan de Jong lakukan gegenpressing yang tepat, ketika para pemain Roma berada dalam mode blok pertahanan tinggi. Situasi pressing 4 v 2.

AS Roma sendiri bukannya tampil buruk. Secara umum, bagi saya, ke-dua tim tampil seimbang. Yang membedakan adalah, Milan sukses membuat gol pertama. Itu kuncinya. Sejak membuat gol pertama, Milan makin merapatkan pertahanan mereka. Horizontal compactness lumayan terjaga. Jarak antar lini pun demikian. Saya berkeyakinan, andaikan Roma yang membuat gol pertama, sangat besar kemungkinana Roma yang akan berada dalam “mode” ini. Hal yang sama terjadi saat Roma kalahkan Napoli. Setelah membuat gol, Roma tampil makin bertahan. Bahkan, di babak ke-dua, mereka betul-betul bertahan dengan sangat dalam dan berkonsentrasi penuh ke pertahanan.

Peran Keisuke Honda dalam mengotaki serangan Milan sangat terasa. Sebagai pemain yang starting point-nya dari sisi kanan, Honda sering kali bergerak ke tengah, baik ke wilayah kanan dalam (half space) maupun wilayah nomor 10 untuk menjemput bola atau coba memulai inisiatif membuka pertahanan Roma. Tidak heran jika jumlah dribble, umpan, dan sentuhan bolanya termasuk yang tertinggi dalam pertandingan ini. Honda jadi salah satu kunci serangan Milan.

Cara Roma dan Milan bermain sangat mirip. Terutama dalam cara bertahan. Bukan hanya formasi dasar, yang sama-sama 4-3-3/4-5-1 tetapi juga cara bertahan. Sama-sama rapat di tengah dan menaikan intensitas pressing saat lawan berada di touchline area dan mendekati 1/3 pertahanan tim.

Saat menyerang, AS Roma dan AC Milan sempat beberapa kali menunjukan sebuah strategi sederhana (yang sifatnya sangat mendasar) dan identik, yang menarik untuk dipelajari. Sebuah set up play ketika mereka coba memperlebar celah horizontal pertahanan lawan. Perhatikan.

bola-diagonal-dan-gerak-vertikal
Kombinasi antara bola diagonal dari sayap kiri ke sayap kanan AS Roma dengan pergerakan vertikal yang berhasil membuka celah horizontal (channel) pertahanan AC Milan.

Kunci dari keberhasilan membuka celah (channel) di kiri pertahanan Milan terdiri dari beberapa faktor pendukung.
Pertama, Penempatan posisi Florenzi dan Doumbia yang memancing Antonelli dan Paletta untuk berfokus pada mereka.
Ke-dua, ketepatan timing Florenzi dalam menyambut umpan diagoal dari kiri dan lakukan umpan 1 sentuhan (sundulan) ke celah yang tercipta.
Ke-tiga, pergerakan vertikal Adem Ljajic yang tiba-tiba (tapi terencana) masuk ke celah (channel) antara Paletta dan Antonelli.
Ke-empat, telatnya van Ginkel menyadari rencana dan strategi yang dilakukan secara mendadak (dikatakan mendadak karena dipicu oleh umpan switch play dari sayap kanan ke kiri) ini, sehingga, ia “kehilangan” Ljajic.

Perhatikan pula penempatan posisi antara Doumbia, Ljajic, dan Florenzi. Ke-tiganya mengisi 3 area horizontal yang berbeda. Doumbia di area tengah, Ljajic di half space (area antara area tengah dan sayap), dan Florenzi di area sayap.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah, keberhasilan bermain dengan menempuh cara ini (umpan jauh diagonal) termasuk rendah. Karena bagaimana pun, umpan jauh selalu memiliki kemungkinan berhasil lebih rendah ketimbang umpan pendek. Jika tim tidak memiliki pengumpan jauh yang baik, resiko kegagalan makin besar.

Kesimpulan

AC Milan bermain baik dalam membangun pertahanan yang rapat dengan blok rendah (low defensive line). Dari 15 tendangan yang dilepaskan Roma, 9 di antaranya berasal dari luar kotak penalti. Ini jadi salah satu pertanda, Roma mengalami kesulitan untuk masuk ke dalam kotak penalti Milan.

Dalam pertandingan ini, Keisuke Honda merupakan kunci permainan menyerang Milan. 41% serangan Milan dilakukan dari sisi kanan (area di mana Honda banyak memulai pergerakannya). 33% dari kiri dan 26% dari tengah. Bila dalam partai lain Milan memainkan pola serangan yang identik dan lawan mampu me-zonal marking Honda secara tepat serta menghentikan sebanyak mungkin umpan yang ditujukan ke Honda, Milan harus mampu mendapatkan alternatif lain untuk terhindar dari masalah.

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Anda bisa jumpai saya di Twitter @ryantank100

Advertisements

2 thoughts on “AC Milan 2-1 AS Roma : Struktur Pertahanan Milan dan Keisuke Honda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s