Thiago Alcantara : Kontribusinya dalam Beberapa Fase Permainan FC Bayern

Sukses mencetak gol sebagai penendang terakhir dalam adu penalti menghadapi Leverkusen, lalu “menghidupkan” peluang FC Bayern dengan sebiji gol saat away ke Porto, ketika kalah 1-3, dan terakhir, gol pembuka yang memberikan FC Bayern semangat lebih, sampai akhirnya sukses membenamkan Porto dengan skor 6-1.

Fakta-fakta gol ini, membuat comeback Thiago Alcantara setelah cedera panjang menjadi begitu sempurna. Cedera berat yang begitu lama, yang sempat menerbitkan banyak keraguan akan masa depan Thiago, menjadi hilang begitu saja. Thiago kembali di saat yang tepat dan dengan penampilan yang sangat brilian. Benarkah demikian?

Kalau dilihat dari sisi gol yang diciptakannya, iya. Tapi, pertanyaan selanjutnya, dan menjadi pertanyaan yang sangat penting adalah, sejauh mana Thiago terlibat dalam banyak fase permainan dan membuat permainan FC Bayern lebih baik? Kontribusi inilah yang coba kita lihat bersama.

Sepak bola dibangun dari banyak detail-detail kecil. Dua tim yang dipisahkan oleh jarak 100-110 meter antara dua gawang, menciptakan begitu bahyak proses bermain di dalamnya. Sebuah gol yang tercipta merupakan efek berantai dari begitu banyak pergerakan, penempatan posisi, umpan, dribble, interception, pemanfaatan ruang, dan masih banyak elemen lain. Di sinilah inti sepakbola. Sebuah proses yang dibangun begitu banyak elemen di dalamnya. Dan elemen-elemen tersebut, bukan (sekedar) gol.

Kontribusi terhadap fase bertahan dan transisi bertahan

Comeback pertama Thiago dilakukan di partai menghadapi Dortmund. Statistik whoscored.com mencatat Thiago lakukan 1 interception (memotong umpan). Brilian? Tentu tidak, kalau hanya melihat data yang disediakan whoscored.com. 1 kali sukses memotong umpan lawan. Apa yang istimewa? Tapi, kalau anda melihat langsung bagaimana interception tersebut dilakukan, akan terlihat di mana letak keistimewaannya. Akan terlihat seberapa baik level kontribusi Thiago.

kontribusi-pada-saat-transisi-bertahan
Kontribusi pada saat transisi bertahan. Dalam sebuah serangan balik, Thiago yang diplot sebagai nomor 8, ikut bergerak naik secara bertahap, ia memposisikan dirinya lebih dalam sehingga, secara otomatis, bertindak sebagai support (cover).

Posisi seperti ini, memiliki dua keuntungan. Pertama, bersiap bila ada bola liar yang bergulir ke luar kotak penalti (bila pemain Dortmund berhasil membuang bola). Dua, karena ia berposisi lebih dalam (deep), Thiago bisa difungsikan sebagai filter kalau Dortmund lakukan serangan balik. Keuntungan ke-dua ini yang didapatkan FC Bayern.

Lingkaran kuning dalam gambar terbawah memperlihatkan Thiago yang bergerak turun dengan cepat dan berhasil lakukan tackle pada Shinji Kagawa. Sebuah situasi yang berbahaya bagi Bayern, bila Thiago tidak menghentikan Kagawa.

Dalam banyak situasi, Thiago selalu dapat menempatkan dirinya berada pada posisi yang tepat. Dalam beberapa kesempatan, ia berhasil mengambil alih bola liar saat tim berhasil menghentikan penguasaan bola lawan (ball recovery), yang kemudian, membantu tim dalam membangun serangan. Ini penting bagi sebuah tim. Ball recovery merupakan bagian dari proses permainan yang membuat permainan menyerang sebuah tim untuk “tetap hidup”.

penempatan-posisi-yang-baik
Penempatan posisi yang baik untuk kebutuhan akan ball recovery. Dengan menempatkan dirinya lebih dalam saat FC Bayern membangun serangan, Thiago sangat mungkin mendapatkan kesempatan lebih baik untuk menjemput bola liar hasil duel atau buangan dari lawan. Ini yang terjadi seperti yang anda lihat dalam gambar di atas. Subotic membuang bola dan bola jatuh di area kosong.

menjemput bola liar
Menjemput bola liar. Berawal dari duel udara antara Lewandowski dengan Diego Reyes, bola liar jatuh ke area kosong. Thiago dengan kecepatan dan inisiatif luar biasa muncul dari lini ke-dua dan mengambil alih penguasaan bola, untuk kemudian berikan sebuah umpan pada Thomas Muller, yang melahirkan sebuah shot on target.

Kontribusi pada saat fase menyerang

Saat dalam fase menyerang, Thiago, dalam peranannya sebagai nomor 8, mampu menunjukan betapa ia merupakan salah satu pemain kreatif (bervisi) yang dimiliki FC Bayern. Beberapa aksi diperlihatkannya, yang tampak sederhana tapi, brilian, dan mampu menolong Bayern dalam menciptakan banyak kesempatan menyerang yang sangat potensial.

umpan-tumit-thiago
Umpan tumit Thiago pada Gotze. Ada 3 hal dalam aksi ini. Pertama, soal umpan tumit. Umpan sangat mungkin merupakan jenis umpan yang paling tidak dapat ditebak lawan. Akibatnya, sistem pertahanan lawan bisa saja terganggu. Bagi pemain profesional, kemampuan ini bukanlah sesuatu yang istimewa. Tapi, sekali lagi, sangat berguna dalam menciptakan banyak tanya di pertahanan lawan.

Ke-dua, kalau anda lihat posisi Thiago saat menerima bola, ia menghadap ke sisi kanan/bukan ke arah gawang lawan). Di sisi lain, ada 2 pemain lawan yang lakukan pressing padanya. Umpan tumit yang jadi putusannya telah membantunya menghemat waktu dalam memindahkan bola ke daerah yang lebih ke depan (advanced area). Bila Thiago menahan bola terlebih dahulu, lalu kemudian memutar arah tubuhnya menghadap gawang lawan, mungkin saja (1) ke-dua pemain Frankfurt semakin dekat padanya dan merebut bola, atau, (2) karena di-press ketat, Thiago terpaksa mengumpan bola ke belakang, bukan ke depan.

Ke-tiga, ini yg terpenting. Umpan Thiago pada Gotze langsung menciptakan serangan balik, yang mana, Bayern sukses menciptakan situasi 3v3, Gotze, Lewy, dan Muller berhadapan dengan 3 bek Frankfurt.

umpan-yang-sangat-bervisi
Umpan yang (sangat) bervisi. Lihat 4 opsi umpan yang dimiliki Thiago. Dari 4 opsi ini, opsi tersulit, sedah jelas adalah, umpan pada Philip Lahm. Karena, begitu banyak pemain yang berdiri pada jalur umpan. Tapi, justru opsi inilah yang diambil oleh Thiago. Umpan tersulit sekaligus merupakan umpan yang jatuh di daerah paling berbahaya bagi lawan. Hasilnya? Umpan ini diambil Lahm, lalu, diumpan pendek pada Muller (lay off), untuk kemudia, diteruskan pada Lewandowski yang mengakhirinya dengan sebuah gol. Semua ini dipicu oleh umpan berisiko yang dipilih oleh Thiago. Brilian? Ya.

kontribusi-di-area-depan
Kontribusi di area depan (pos penyerang). Di partai ke-dua 8 besar, menghadapi Porto, ada banyak momen di mana Thiago menunjukan ia memiliki visi bermain dan daya jelajah yang tinggi. Momen di menit 03 : 50 babak pertama, salah satunya. Sebuah umpan jauh mendarat di zona 14 Porto. Saat itu. Baik Lewandowski maupun muller berada jauh di luar kotak 16 (perbatasan antara zona 10-13 dan 11-14). Thiago mampu menjemput bola dan dalam sentuhan pertama ia flick on bola ke belakang, ketika Muller bergerak naik ke depan.

umpan-1-sentuhan
Umpan 1 sentuhan yang langsung memindahkan orientasi permainan. Dalam sebuah kesempatan build up, Pemain-pemain Leverkusen lakukan pressing dengan orientasi per orang. Saat Dante memegang bola, pemain-pemain Leverkusen lakukan press pada tiap pemain Bayern yang berada di dekatnya.

Thiago yang menyadari hal ini, segera mendekati Dante. Sebuah putusan yang sangat cepat diambil Thiago, sesaat setelah menerima bola dari Dante, Thiago langsung memindahkan bola ke sisi yang lain. Ia mengumpan pada Rafinha di sisi kanan luar. Sebuah inisiatif cepat, yang menolong Bayern keluar dari pressing, sekaligus mendapatkan ruang untuk menyerang.

memindahkan-permainan-ke-sisi-kiri
Memindahkan permainan ke sisi kiri. Pertama, perhatikan umpan yang dipilih. Thiago mengumpan ke kiri, karena, dengan bola berada di kiri, FC Bayern berpeluang menciptakan overloading (menumpuk pemain untuk mendapatkan superioritas jumlah pemain) di kiri. Selain itu, Gotze yang menjadi target umpan pun berada dalam posisi sangat bebas. Dua alasan ini membuat pilihan melakukan umpan ke sisi kiri menjadi sangat logis.

Yang ke-dua, sebelum menerima bola untuk kemudian lakukan umpan ini, Thiago melakukan apa yang menjadi salah satu dasar penting dalam bersepakbola. Yaitu, bergerak, lihat, dan berpikir. Sebelum menerima umpan Boateng (kanan bawah, dekat Thiago, terpotong oleh frame gambar), Thiago yang menghadap ke sisi kanan, dua kali menoleh, masing-masing ke arah jam 7 dan jam 9. Sebelum akhir,ya, ia menerima umpan dan dapat dengan segera mengambil keputusan.

Di menit ke-94, Thiago kembali melakukan hal serupa. Ia mengisi half space di area kanan Leverkusen. Begitu menerima umpan dari Xabi Alonso, Thiago langsung mengirim sebuah umpan diagonal berjarak lebih dari 22 meter ke sisi kiri Leverkusen, di mana Bernat berdiri tanpa kawalan.

Umpan Thiago pada Mario Gotze dan pada Juan Bernat, merupakan jenis umpan yang ditujukan untuk mengubah arah permainan menyerang. Saat sebuah tim diserang dari sisi kiri, merupakan sesuatu yang wajar bila, tim tersebur lebih terfokus (bahkan memenuhi area tersebut). Dalam kondisi seperti ini, tim penyerang, yang memiliki pemain kreatif, dapat memanfaatkan “kekosongan” di sisi kanan, dengan cara memindahkan permainan melalui umpan diagonal yang jauh dan mengejutkan. Thiago Alcantara memiliki kemampuan ini. Dan, jelas, ini menguntungkan bagi FC Bayern.

gol-ke-tiga-fc-bayern
Gol ke-tiga Bayern merupakan gol terbaik dalam pertandingan ini. Philip Lahm lakukan umpan silang pada Muller, untuk kemudian flick on pada Lewandowski, yang langsung disundul oleh Lewandowski sendiri. Kombinasi 1 sentuhan yang cepat. Tapi, sebelum Lahm menyisir sisi kiri Porto, adalah Thiago yang ciptakan inisiatif serangan. Ia yang berikan umpan satu sentuhan pada Lahm.

Kelebihan lain Thiago

Dalam dua partai menghadapi Porto, Thiago menunjukan ia juga memiliki kemampuan sebagai false 8. Dua gol yang dibuatnya merupakan cerminan terhadap kemampuan ini. False 8 sendiri merupakan sebuah peran yang diemban salah satu central midfielder (gelandang tengah) yang bertugas lebih banyak sebagai support dan attack ketimbang rekannya, gelandang tengah lainnya, yang lebih banyak sebagai support dan bertahan (atau sering disebut sebagai nomor 6). Bedanya false 8 dengan (number) 8, adalah, false 8 diharapkan punya kemampuan masuk ke dalam kotak penalti lawan, untuk menciptakan peluang, merusak konsentrasi musuh, atau (bahkan) mencetak gol. Sebuah gol diciptakan Thiago pada partai pertama dan sebuah gol pembuka di partai ke-dua.

Kelebihan lain Thiago, adalah, teknik individu yang sudah jadi bawaan alami dirinya. Bagi seorang pemain keturunan Brazil, merupakan sesuatu yang “harus” untuk memiliki kemampuan olah bola yang aduhai. Thiago memiliki bakat itu. Bakat ini, pada akhirnya, sangat menolong Thiago untuk berkembang dan hebat ketika harus bermain dalam ruang yang sempit (tight space).

mampu-bermain-dalam-ruang-sempit
Mampu bermain dalam ruang yang sempit. Sampai pada taraf tertentu, bentuk segi tiga merupakan bentuk yang tepat bagi sebuah tim untuk, meloloskan diri dari pressing lawan, karena, ada dua opsi umpan bagi si pemegang bola, pada dua sudut berbeda. Juga, sangat baik untuk mempertahankan penguasaan bola, dengan alasan yang identik. Tetapi, terkadang, hal ini tidak berlaku, bila, lawan lakukan pressing yang sangat baik pada si pemegang bola (dan menciptakan ruang sempit). Atau, penempatan posisi dalam bentuk segi tiga kurang tepat (salah 1 contoh adalah, jarak antara ke-tiga pemain yang terlalu jauh).

Dalam image di atas, Leverkusen berhasil melakukan pressing dan ciptakan situasi 3v1 terhadap Thiago. Di sinilah salah satu kelebihan Thiago. Ia memiliki teknik (sekaligus kecepatan berpikir) untuk bermain dalam ruang sempit. Kali ini, dalam waktu yang begitu mepet, ia sukses lepaskan umpan pada Muller, yang kemudian, coba lakukan kombinasi 1-2 dengan Lewandowski.

Umpan jauhnya (umpan dengan jarak target sejauh 25 meter) juga termasuk baik. Sering kali dari umpan seperti ini, ia menciptakan kesempatan serang yang potensial bagi FC Bayern.

Dalam “debut” menghadapi Dortmund, Thiago tampil selama 20 menit terakhir. Ia membuat 27 sentuhan pada bola (yang kebanyakan dilakukan di tengah dan kiri), 22 umpan tepat, 1 umpan kunci (key pass), dan 3 dribble tuntas. Di partai menghadapi Porto, Thiago tampil selama 90 menit (sebelum ditarik keluar di waktu tambahan). Ia membuat 72 sentuhan, 52 umpan tepat, 3 umpan kunci (key pass), dan 4 dribble tuntas.

Sekitar 74 % dari (masing-masing) sentuhan dan umpan yang dilakukannya, berada di area pertahanan lawan (kebanyakan di area tengah, bukan 1/3 pertahanan lawan). Hal ini memperlihatkan, secara garis besar, di mana posisi Thiago bermain. Ia merupakan nomor 8 yang banyak bergerak dari area yang lebih dalam, untuk kemudian bergerak ke area depan. Yang pada saat-saat tepat, ia masuk ke dalam kotak penalti.

1 kali Pep berkata (kira-kira begini), “bertahan itu merupakan sesuatu yang terstruktur, menyerang merupakan sesuatu yang lebih kepada talenta.” Bagi saya pribadi, ucapan ini bisa menrepresentasikan apa peran terbaik bagi Thiago. Bayern bisa saja memplotnya sebagai hibrida nomor 6/8, yang bertugas dalam fase bertahan, transisi menyerang, dan transisi bertahan. Thiago punya kemampuan itu dan mampu berkontribusi baik terhadapnya. Tetapi, tetap memberikan kebebasan lebih padaya untuk menciptakan lebih banyak kepanikan di area depan (sebagai false 8), dalam fase menyerang tentunya. Karena, Thiago punya bakat olah bola yang sangat baik dan akan sangat berguna saat Bayern menggunakannya untuk membongkar pertahanan lawan.

Terima kasih atas kesediaan untuk membaca. Anda bisa follow saya di Twitter @ryantank100

Advertisements

One thought on “Thiago Alcantara : Kontribusinya dalam Beberapa Fase Permainan FC Bayern

  1. Pingback: FC Bayern Munchen 5-1 Arsenal: Perubahan Struktur Posisional Menjadi Kunci Kemenangan Die Roten - Football Fandom Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s