FC Porto 3-1 FC Bayern : Tiga Fase Utama Pressing Porto dan Blunder Pertahanan

Dalam beberapa tulisan terakhir, pressing menjadi satu poin krusial di dalamnya. Dan, sekali lagi, mau tidak mau, partai Porto vs Bayern menjadi partai lain di mana pressing (intensitas tinggi) menunjukan betapa penting kehadirannya dalam era sepakbola modern.

Dalam visual komersil televisi, Porto disebut bermain dengan 4-3-3, sementara Bayern, 4-1-2-1-2. Padahal, dalam kenyataannya, hal tersebut hanya benar pada fase permainan tertentu. Tidak dalam semua fase permainan Porto bermain dengan 4-3-3. Demikian pula dengan Bayern, bentuk permainan bergerak sesuai fase permainan itu sendiri.

pressing-porto-fase-1
Pressing Porto Fase 1. Pressing dalam bentuk dasar 4-2-4. Sebuah pressing yang berorientasi pada orang per orang (man to man pressing). Pemain-pemain Porto yang berada paling dekat dengan Bayern merupakan pressing utama, yang bertugas menjaga pemain-pemain Bayern terdekat. Casemiro bertindak sebagai cover (baik ke depan maupun belakang) sekaligus berperan sebagai free-man untuk menciptakan superioritas jumlah, bila diperlukan.

Ketika Bayern mampu mem-by pass pressing fase 1 untuk kemudian mencapai area tengah lapangan (middle-third di sekitar zona 7, 8, 9), Porto pun mengubah cara pressing mereka dengan beralih ke bentuk 4-3-3.

pressing-porto-fase-2
Pressing Porto fase 2, dilakukan di area tengah (middle third), yang dimulai di sekitar zona 7, 8, dan 9. Porto beralih ke sebuah bentuk pressing dengan tujuan utama melindungi akses di tengah yang berhubungan langsung ke zona 5. Dalam situasi di atas, penguasaan bola Bayern berada di half space kiri Porto. Karenanya fokus formasi Porto condong ke kiri. Pemain Bayern yang berada di area serang paling kanan Porto, adalah Bernat. Ia dijaga oleh Herrera tidak dengan cara man-marking dalam jarak dekat, tetapi Herrera menjaga jaraknya agar tetap ideal dalam mengawasi gerak Bernat juga jaraknya terhadap lima pemain Porto yang berada di dekatnya.

Ketika ternyata Bayern mampu membawa bola sampai ke area pertahanan (defensive third) Porto, pemain-pemain Porto akan kembali lakukan perubahan formasi untuk merespon hal ini. Karena, Bayern berada di area yang makin dekat dengan gawang, Porto pun bermain dengan formasi yang lebih bertahan (low deep formation).

pressing-porto-fase-3
Pressing Porto fase 3. Pola dasar 4-5-1 menjadi pilihan logis, karena saat Bayern berhasil mencapai 1/3 pertahanan Porto dan berada di sayap, ke-dua penyerang sayap Portolah yang bertugas memberikan pressing (bukan satu dari empat bek). Tiga pemain tengah mampu berkonsentrasi untuk mengamankan akses ke dalam kotak penalti.

Pressing Porto pada fase 1, membuahkan hasil, saat Jackson Martinez mampu merebut bola dari kaki Xabi Alonso, yang lakukan blunder kontrol bola, untuk kemudian membuahkan penalti. Pada gol kedua, giliran pressing fase 2 yang bekerja. Gol terjadi karena pressing Quaresma pada Dante. Kebetulan, saat itu, Dante lakukan blunder kontrol bola, sehingga bola dipotong oleh Quaresma. Hal ini menerbitkan banyak pendapat bahwa Xabi Alonso tidak memiliki pressing resistance yang dibutuhkan ketika menghadapi pressing intensitas tinggi.

Yang menarik dilihat, adalah reaksi Bayern dalam merespon pressing fase 1 dan pressing perorangan oleh Porto kepada Xabi. Dalam kondisi normal, saat lawan terapkan pressing blok tinggi, Xabi akan turun ke bawah (lini belakang) menjadi satu dari bek dan membentuk formasi tiga bek tengah. Hal ini ditujukan untuk menjemput bola dari bawah, sekaligus mendorong kedua bek sayap bergerak naik. Dalam sepak bola modern, hal ini dikenal sebagai la salida lavolpiana. Tapi di partai ini, Porto lakukan pressing perorangan dan zonal dengan baik terhadap strategi Bayern ini. Bahkan Porto memanfaatkan permainan antar lini Xabi untuk memperoleh akses prssing ke kedalaman pertahanan Bayern. Bisa lihat dalam diagram di bawah. Lantas bagaimana Bayern meresponnya? Saat seperti inilah Manuel Neuer diperlukan.

penggunaan-neuer
Penggunaan Neuer. Untuk merespon pressing fase 1, seperti yang dijelaskan pada paragraf di atas, Bayern menggunakan Neuer untuk menciptakan jalur umpan. Pada saat Xabi, atau salah satu dari Dante atau Boateng yang menerima bola, pressing Porto fase 1 akan langsung bereaksi dan menekan si penerima bola. Dalam kondisi ini, deep build up Bayern bukan hanya hancur, tetapi juga membahayakan diri sendiri (ingat gol pertama dan kedua Porto).

Tetapi pressing langsung kepada pemegang bola tidak akan dilakukan oleh pemain Porto apabila si pemegang bola adalah kiper (Neuer). Kenapa? Saat satu dari empat pemain depan Porto menekan Neuer, akan tersisa satu ruang kosong pada area patroli di salah satu dari empat pemain Bayern (Dante, Boateng, Xabi, Thiago). Dan Porto tidak akan ambil resiko seperti ini. Karena sama saja memberikan kesempatan Bayern untuk membangun serangan dari bawah. Pressing pada Neuer bisa saja dilakukan bila, waktu dan momennya benar-benar tepat. Dalam momen pada gambar di atas, Neuer berhasil “menemukan” Rafinha di sayap kanan sekaligus mem-bypass pressing fase 1 milik Porto.

Bagaimana dengan permainan Bayern sendiri? Seperti biasa, Bayen pun lakukan pressing, yang memang sudah jadi ciri khas Josep Guardiola. Bedanya, Bayern lebih memilih lakukan pressing dengan menggunakan skema pressing tiga pemain depan atau pressing dua pemain depan.

Pressing-Bayern-dengan-3 pemain-depan
Contoh pressing Bayern dengan 3 pemain depan.

Di saat Porto berada di sayap, Bayern juga sebetulnya mampu lakukan touchline pressing. Yaitu, sebuah jenis pressing yang dilakukan di area paling pinggir dari lapangan. Bayern selalu coba lakukan overloading (penumpukan) pemain di sana. Baik dengan ciptakan situasi 2v1 maupun 3v2.

Beberapa kali, pressing yang dimainkan Bayern berhasil membuat mereka merebut bola dari penguasaan pemain Porto. Tetapi, karena ketatnya pertahanan Porto serta ketidakhadiran Robben dan Ribery, yang berarti juga mengurangi variasi permainan, Bayern pun kesulitan masuk ke pertahanan Porto. Sebuah momen kecil, di mana pressing Bayern sukses merebut bola dari kaki pemain Porto memperlihatkan perlunya pemain seperti Robben dalam momen seperti ini.

counterpressing-bayern
Pressing Bayern.

Dalam kesempatan ini, Bayern sukses merebut bola (2). Untuk kemudian bola diumpan pada Muller (3). Dalam situasi ini, setelah Bayern sukses merebut bola, karena Porto sukses menutup celah di lini belakang, Bayern “mengerem” serangan mereka. Saat itu, Muller dan Rafinha yang berada paling dekat dengan bola Jika Robben berada dalam kesempatan tersebut, sangat mungkin ia akan mencoba melewati bek Porto dalam keadaan 1 lawan 1. Yang juga mungkin ciptakan beberapa kesempatan yang lebih bagus dalam kotak penalti. Tetapi, yang berada di sana bukan Robben, melainkan Muller. Dengan Muller, serangan Bayern adalah tentang penempatan posisi dan pergerakan tanpa bola. Dengan Robben, Bayern bisa menyerang dengan kecepatan dan coba melewati lawan dalam situasi 1 lawan 1.

Apakah Robben lebih baik dari Muller? Untuk satu hal spesifik, iya. Tapi, ini bukan soal siapa lebih baik. Ini adalah soal variasi permainan. Ini adalah tentang perubahan tempo, dikarenakan ada pemain dengan tipikal berbeda di sana. Bayern membutuh variasi tersebut untuk membuka pertahanan Porto.

Bayern memang tertinggal dengan cepat, dalam rentang waktu kurang dari 10 menit kebobolan dua gol. Tapi bukan berarti Bayern mati kutu sama sekali. Kalau dikatakan Bayern kesulitan kembangkan permainan, ya. Tapi perlu digaris bawahi. Sejak cederanya Robben, Ribery, dan Alaba, Pep telah “mengorbankan” filosofi juego de posicion-nya. Tidak ada lagi juego de posicion, yang berlandaskan penempatan posisi untuk arahkan lawan bergerak ke area tertentu, dikombinasi dengan formasi gerak asimetris dan umpan pendek dengan tempo berganti-ganti, untuk kemudia menghajar lawan ke area di mana lawan tidak berfokus ke sana. Dan arjen Robben-lah pemain yang mendapatkan mandat melakukan serangan “akhir” tersebut. Pep menyebutnya penciptaan free-man. Robben-lah free-man tersebut.

Bayern bermain lebih direct. Permainan vertikal dengan kombinasi umpan jauh jadi pemandangan yang makin sering terlihat. Di partai lawan Dortmund, 10 hari lalu, umpan-umpan jauh ini lumayan efektik. Karena, duet Lewy-Muller berkali-kali mampu menjadikan diri mereka sebagai papan pantul maupun pengontrol bola yang baik. Tapi tidak di partai ini. Umpan jauh Bayern mampu diantisipasi lini belakang Porto. Apakah berarti Muller dan Lewandowski bermain buruk? Kalau pun iya, itu jadi hal lain. Kenapa? Karena, pada dasarnya, umpan-umpan jauh memang memiliki kemungkinan berhasil jauh lebih kecil ketimbang umpan pendek. Dan, kali ini, Porto berhasil memanfaatkan bawaan (kelemahan) alami umpan jauh.

Di luar hilangnya variasi permainan dari Robery, di partai ini pun Bayern tidak perlihatkan fungsi dua bek sayap seperti yang mereka tunjukan di partai besar di Bundesliga. Dalam partai hadapi Dortmund dan Leverkusen, dua bek sayap Bayern bermain dalam formasi dasar 3-5-2 dan sering jadi papan pantul umpan dari belakang untuk diarahkan langsung ke depan, ke Muller-Lewandowski. Dalam 3-5-2, secara natural, posisi ke-dua wing back berada di antara lini belakang dan lini depan, sehingga, secara alami memudahkan untuk memainkan taktik umpan pantul langsung ke depan, “receive and go”. Di partai ini, hal tersebut tidak terjadi. Salah satu kemungkinannya, karena posisi mereka (kedua) yang berada lebih dalam (Bayern bermain dengan skema 4 bek).

Porto sendiri, mampu tampilkan pressing konstan sepanjang pertandingan. Beberapa kejadian di babak kedua, bahkan memperlihatkan Porto berhasil memotong umpan Bayern saat bola masih berada di deep area milik Bayern. Selain itu, banyak serangan Bayern terhenti di area tengah di daerah Porto. Gol ketiga porto jadi bukti betapa pressing Porto kembali berperan. Kurang dari satu menit sebelum gol Jackson, Porto berhasil menghentikan serangan Bayern di zona 5 Porto. Bola disirkulasi, sampai akhirnya sebuah umpan jauh dari Alex Sandro gagal dipotong duet center back Bayern. Porto 3-1 Bayern.

Kesimpulan

Pressing Porto sukses dan memberikan hasil maksimal bagi mereka. Semua gol Porto, selain karena pressing mereka yang intens. Juga, dikarenakan blunder di pertahanan Bayern. Seperti yang dikatakan Lahm, dengan memilih membangunserangan dari belakang, tentu hal tersebut memiliki resiko. Dan, resiko inilah yang berhasil dimanfaatkan Porto, di dua gol awal. Selain itu, banyaknya blunder oleh Xabi dan Dante pada saat mereka di-pressing memunculkan banyak opini bahwa keduanya merupakan pemain dengan pressing-resistance rendah yang sangat mungkin didayagunakan oleh lawan-lawan Bayern ke depannya.

Di sisi lain, satu-satunya gol Bayern juga dikarenakan oleh blunder pertahanan Porto. Umpan silang mendatar dari Boateng, seharusnya bisa diatasi dan dipotong, tetapi karena ada kegagalan memotong bola, yang disebabkan oleh kesalahan penempatan posisi, Tiago Alcantara bisa membobol gawang Porto tanpa gangguan.

Porto bermain lebih baik. Mereka pantas menang.

Anda bisa folow Twitter saya @ryantank100

Advertisements

One thought on “FC Porto 3-1 FC Bayern : Tiga Fase Utama Pressing Porto dan Blunder Pertahanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s