Atletico Madrid 0-0 Real Madrid : Pertahanan Terstruktur dan Perang Pressing

atletico-madrid-vs-real-madrid
Atletico Madrid vs Real Madrid

“Atletico Madrid merupakan salah satu tim terbaik dalam urusan bertahan. Ini membuat kami kesulitan menemukan solusi (menyerang).” Begitu kata Ancelotti dalam jumpa pers setelah pertandingan. Sebuah kalimat yang menggambarkan jalannya pertandingan secara umum. Yang juga, merupakan sesuatu yang sudah diperkirakan oleh semua orang, termasuk para pemain dan semua staf di Madrid.

Seperti yang sudah-sudah, Atletico Madrid memainkan sepakbola yang jadi tipikal mereka :

1) Bertahan dengan dua lapis horisontal yang terdiri dari 4 pemain, masing-masing lapisnya (dalam bentuk dasar 4-4-2) atau bahkan, dengan formasi 4-6-0.

2)Menumpuk pemain di tengah dan “membiarkan” lawan bermain di area yang “aman”. Pada saat lawan masuk ke area berbahaya, pemain-pemain Atletico akan segera lakukan pressing. Atau, alternatif lain, pada saat lawan mencapai area touchline (garis paling pinggir dari masing-masing sisi lapangan), walaupun tidak selalu masuk kategori area berbahaya, pemain Atletico akan lakukan pressing di sana. Dengan cara overloading (memperbanyak pemain) dan membentuk formasi pressing.

atletico-touchline-pressing
Atletico touchline pressing skema satu.

atletico-touchline-pressing-scheme-2
Atletico touchline pressing skema dua.

Pressing skema dua, pada dasarnya, sangat cocok bila sebuah tim ingin mempertahankan bentuk dasar 4 bek sejajar. Karena, dengan sistem ini, pada saat sebuah tim harus berhadapan dengan serangan sayap, pemain-pemain yang harus lakukan pressing pada sayap lawan bukanlah satu dari 4 bek sejajar. 4 bek sejajar bisa berdiri tetap pada posisi di mana mereka seharusnya dan mempertahankan bentuk dasar untuk tetap solid. Pemain sayap dan salah satu dari central midfielder merupakan pemain-pemain yang berfungsi sebagai presser utama. Jika salah satu dari 4 bek berniat lakukan pressing, ia bisa lakukan dalam perannya sebagai penyokong (support).

Selain memang pada dasarnya Atletico merupakan tim yang “gemar” melakukan touchline pressing, cara pressing seperti ini cocok saat menghadapi Madrid yang pada dasarnya banyak melakukan serangan dari area sayap. Bila dilihat dari satu sisi, berdasarkan 2 gambar di atas, tentunya terlihat madrid seakan-akan kesulitan dalam menghadapi pressing macam ini. Untuk merespon hal seperti ini, Madrid pun lakukan beberapa skema overloading (penumpukan pemain), di area sayap untuk memenangkan perebutan bola. Dan, dalam beberapa kesempatan, dengan timing yang tepat, Madrid berhasil mengambil alih penguasaan bola. Ini salah satunya.

madrid-pressing-on-the-right-side
Madrid pressing on the right side. Situasi 3v2 (Benzema, James, dan Marcelo) merupakan presser utama. Modric, Ramos, Varane, dan Kroos, bertindak sebagai cover (pelindung).

Madrid merupakan tim yang banayk memulai serangan mereka dari sayap untuk kemudian bergerak ke tangah dengan cepat. Menarik untuk melihat bagaimana mereka membangun serangan dari sisi sayap. Salah satunya dari sayap kiri (sisi kanan Atletico).

Satu hal yang sering terjadi adalah, kombinasi antara Karim Benzema dan Marcelo. Untuk kesekian kalinya, Karim Benzema memperlihatkan ia merupakan salah satu false nine dengan kemampuan gerak lateral (horisontal) yang sangat baik.

marcelo-and-benzema-combination
Benzema and Marcelo combination di kiri. Ada kemungkinan, ini jadi salah satu rencana taktik Madrid, tetapi, karena, pertahanan Atletico sangat ketat, sangat tidak banyak kesempatan seperti ini muncul.
Madrid pun, lebih memilih lakukan serangan melalui alternatif lain. Salah satunya, kombinasi 1-2 antara Benzema dan Marcelo di kiri. Satu momen paling brilian dari kombinasi ini, adalah, saat Benzema lakukan kombinasi umpan 1-2 di menit 29.

Dari sisi paling kiri, Benzema menerima umpan James, setelahnya ia masuk ke dalam (invert) untuk lakukan kombinasi dengan Marcelo yang berada di half space (celah antara sisi sayap dan tengah lapangan), lalu kemudian, kombinasi umpan 1-2 dengan Ronaldo, untuk kemudian “memindahkan” permainan k sisi kanan di mana Carvajal telah bersiap menerima bola. “Kami melakukan pergerakan dengan baik di babak pertama.” Begitu kata Ancelotti. Dan, momen ini jadi salah satu contoh paling tepat.

karim benzema
Karim Benzema. Pergerakan lateral seperti ini, merupakan salah satu kelebihan Benzema dalam perannya sebagai false nine.

Yang menarik dipelajari dari skema ini, bukan hanya kemampuan gerak lateral Benzema, tetapi juga, sebuah gerak tanpa bola (off the ball) vertikal oleh James Rodriguez yang berhasil memancing Juanfran (bek kanan) untuk tidak menganggu Benzema. Tanpa, James berinisiatif bergerak ke sisi kanan atletico, ada kemungkinan Juanfran lakukan press pada Benzema dan gagalkan skema ini. Tapi, hal tersebut tidak terjadi, karena, James dengan cepat lakukan gerakan tanpa bola memancing perhatian Juanfran. Akibat positifnya, gangguan pada Benzema menjadi sangat minim.

Atletico sendiri memilih bermain direct (langsung ke depan) dalam melakukan serangan. Banyak sekali kesempatan serang dilakukan dengan umpan jauh langsung ke lini depan, di mana Mandzukic berada. Hal ini kurang efektif, karena, Mandzukic tidak sedang berada dalam penampilan terbaiknya. Lepas dari apa pun alasannya, ia banyak sekali gagal dalam duel 1 lawan 1.

Selain bermain umpan direct, Simeone tampak memberikan sedikit keleluasaan bagi Atletico dalam menyerang. Struktur serangan Atletico lebih “bebas” ketimbang struktur pertahanan yang terkenal sangat rigid (kaku). Kalau anda melihat bagaimana Arda Turan dan Antoine Griezmann mencoba men-dribble bola, itu merupakan salah satu “kebebasan” yang saya maksudkan.

Namun, dengan adanya “kebebasan” yang baru saya sampaikan, bukan berarti tidak ada skema serang terencana dalam vis taktikal Simeone. Seperti juga dalam bertahan, Simeone selalu berusaha menampilkan bentuk main dengan jarak yang sangat rapat antara pemain satu dengan yang lain.

atletico-attacking-build-up
Atletico build up. Bentuk permainan yang baik, bila dikaitkan dengan penguasaan bola.

diamond-formation
Diamond formation, sebagai formasi lain Atletico dalam membangun serangan.

Di babak ke-dua, tidak banyak perubahan terjadi. Baik cara menyerang maupun cara bertahan ke-dua tim. Skema yang identik dengan yang mereka lakukan di babak pertama.

3-v-3 situation-in-attacking-scheme
3v3 in attacking scheme.

Hal yang sama juga dilakukan Atletico. Overloading (menumpuk) pemain di area tertentu untuk ciptakan situasi jumlah pemain yang lebih banyak, menjadi salah satu alternatif yang snagat jamak. Berkali-kali Atletico menciptakan situasi seperti ini dan berkali-kali pula mereka berhasil melancarkan serangan balik ataupun (sekadar) keluar dari kepungan pemain Madrid.

Kesimpulan

Secara umum, pressing ke-dua tim berjalan dengan sesuai yang biasa terlihat ketika ke-duanya dalam performa terbaik. Ada kekurangan minor, merupakan sesuatu yang wajar, karena, kekuatan dan pengalaman ke-dua tim bisa dikatakan seimbang.

Bila di pertemuan ke-dua nanti Tiago dimainkan, hal ini bisa berimbas positif. Karena, selain seorang pemain dengan pemahaman taktik yang baik, Tiago juga punya kreativitas seorang playmaker yang lebih baik ketimbang Mario Suaréz. Madrid sendiri akan, minimal, perlu mengulang penampilan di babak pertama. Dengan perbaikan pada penyelesaian akhir, tentunya.

Terima kasih untuk kesediaan membaca. Anda bisa follow blog, untuk update terbaru
Atau, bisa temui saya di Twitter @ryantank100

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s