Kajian Singkat terhadap Pressing (Kontrol Ruang)

Kontrol ruang atau pressing, telah menjadi bagian penting dari sepakbola modern. Banyak argumen dan pendapat yang mengatakan, Rinus Michel memulainya, Arrigo Sacchi mempopulerkannya, dan Pep Guardiola serta beberapa manajer era modern, menyempurnakannya. Peraturan 6 detik, counterpressing, dan pressing yang berorientasi pada penjagaan wilayah (zona), menjadi beberapa varian pressing.

Dalam kesempatan ini, kita tidak akan membahas varian-varian tersebut. Tulisan ini akan memberikan kajian singkat terhadap beberapa sistem pressing. Saya akan coba perlihatkan bagaimana sebuah tim memainkan pressing sekaligus mengontro ruang. Kita akan coba sama-sama lihat, bagaimana para pemain melakukannya, mengapa mereka melakukannya, dan sampai sejauh mana efektifitasnya.

Tetapi, sebelum memulai, ada beberapa istilah-istilah yang perlu saya berikan definisi singkatnya terlebih dahulu. Ini untuk memudahkan bagi anda yang (mungkin) asing dengan beberapa istilah.

Pressing = usaha merebut bola dari lawan, bisa dilakukan dengan cara adu fisik dengan si pemegang bola atau sekedar membayang-bayanginya, dengan harapan si pemegang bola melakukan kesalahan atau kehilangan kesempatan mengumpan maupun menembak, karena ruang umpan atau ruang tembak telah ditutup.

Touchline = garis di masing-masing sisi (kiri dan kanan) lapangan permainan.

Deep area = “area dalam” atau area di pertahanan sendiri.

High block = blok tinggi. Istilah yang digunakan untuk perlihatkan sebuah tim yang garis terakhir pertahanannya berada di dekat garis tengah atau bahkan masuk ke dalam area lawan.

2 = bek kanan, 3 = bek kiri, 4 dan 5 = bek tengah, 6 = gelandang tengah/bertahan dan 8 = gelandang tengah, 7 dan 11 = sayap/penyerang sayap, 9 = penyerang, dan 10 = gelandang serang atau penyerang. Untuk lebih jelasnya, lihat gambar di bawah.

susunan-pemain-dan-penomoran-posisi
Contoh susunan pemain dan penomoran posisi

Touchline pressingEdit

Pressing pada bagian paling pinggir dari lapangan. Pressing cara ini dapat memberikan banyak keuntungan bagi tim yang lakukan pressing (presser). Perhatikan.

gambar-1
Gambar 1. Perhatikan bahasa tubuh pemain 10. Juga, bagaimana pemain 7 yang menunda bergerak ke area di depannya, sebelum ia memutuskan melakukannya. Ke-dua pemain tersebut memperlihatkan contoh kontrol ruang dengan ritme yang pas.

gambar-2
Gambar 2. Penjagaan zonal dan “memaksa” Bilbao untuk mengerakan bola ke touchline (setelah sebelumnya dipaksa arahkan ke belakang, karena, kecilnya ruang untuk mengarahkan bola ke depan).

valencia-mengambil-alih-penguasaan-bola
Valencia mengambil alih penguasaan bola. Lagi-lagi, perhatikan kontrol ruang dan bagaimana pemain Valencia (9, 10, dan 7) menjaga jarak dan menutup jalur umpan pendek.

Sebelum kita lanjutkan, bisa jadi ada yang bertanya, kenapa Valencia mengarahkan Bilbao ke touchline area? Kenapa nggak di area tengah? Ada apa di touchline?

Begini, dalam sepakbola ada istilah touchline is the best defender, yang bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, menjadi, touchline merupakan pemain bertahan terbaik. Kenapa bisa demikian, hal ini ada hubungannya dengan opsi umpan dan sudut pandang.

perbandingan-opsi-umpan-dan-sudut-pandang
Perbandingan opsi umpan dan sudut pandang

Pada saat seorang pemain di middle area (area tengah), ia memiliki sudut pandang sebesar 360°, dengan jumlah opsi umpan maksimal (ke 8 arah mata angin). Tetapi, saat berada di touchline area, jumlah opsi umpan dan sudut pandangnya secara alami berkurang. Dari 360° menjadi 180°. Dari 8 opsi arah umpan menjadi hanya 5. dengan mempertimbangkan hal alami seperti ini, adalah sangat logis, bila, sebuah tim yang bertahan (tidak sedang menguasai bola) berusaha mendorong lawan ke area touchline. Di touchline mereka bisa memaksa lawan untuk lakukan lebih banyak kesalahan, karena, minimnya opsi yang tersedia.

Deep Area Pressing

Seperti yang dijelaskan di atas, pressing merupakan usaha untuk merebut bola. Dan, perlu digaris-bawahi, merebut bola, bukan selalu berarti mengejar lawan yang membawa bola. Pressing adalah soal kontrol ruang dan bagaimana membuat lawan kehilangan bola (tim kita merebut bola).

“Pressing is not about running and it’s not about working hard. It’s about controlling space”. – Arrigo Sacchi –

Adalah soal mempersulit lawan dengan kita lakukan penempatan posisi yang tepat, yang juga sekaligus, menutup ruang gerak, ruang umpan, atau kesempatan menembak.

Deep area sendiri, merupakan “area dalam” atau area di pertahanan sendiri. Sehingga, sederhannya, deep area pressing adalah pressing yang dilakukan di dalam (area) pertahanan sendiri.

Contoh berikut merupakan salah satu contoh deep area pressing yang baik. Sebuah contoh tentang kontrol ruang, tentang pemahaman akan ruang dalam kaitannya terhadap soliditas pertahanan.

bagaimana-lakukan-deep-area-pressing
Bagaimana lakukan deep area pressing. Dalam bertahan, bentuk atau formasi merupakan hal utama, pressing yang dilakukan di deep area pun harus berkiblat pada hal ini. Adalah sah, bila pressing bisa dilakukan secara naluriah (tidak merupakan pola yang direncanakan), tapi, para pemain (baik si “presser” maupun rekan lain), harus terus berkonsentrasi untuk menjaga bentuk. Gambar di atas memperlihatkan, (1) penjagaan zonal dan penciptaan situasi pressing 3 vs 1, (2) bagaimana Valencia tetap terus berusaha menjaga bentuk bertahan mereka yang terdiri dari 4 bek sejajar dengan 1 gelandang bertahan di depannya.

High block pressing

High block pressing adalah pressing yang dilakukan di dalam pertahanan lawan, yang terkadang bisa masuk sampai ke 1/3 pertahan lawan atau, bahkan, area penalti. Kebanyakan pressing seperti ini digunakan untuk memaksa lawan melakukan umpan jauh atau bila memungkinkan, lawan lakukan kesalahan di area sendiri dan tim yang lakukan pressing mampu segera menyerbu gawang lawan.

high-block-pressing
High block pressing. Tujuan pressing jenis ini, adalah, memaksa lawan untuk bermain di area pertahanan sendiri. Sehingga, diharapkan, bila tim mampu merebut bola, mereka sudah lebih dekat dengan gawang lawan. Tujuan lain, adalah, bila tidak memungkinkan merebut bola dari kaki lawan, pressing ini memaksa lawan untuk lakukan umpan jauh. Yang notabene, akurasi umpan jauh jelas lebih rendah daripada umpan pendek. Hal ini bukan hanya dikarenakan jarak yang jauh, tetapi juga, dengan umpan jauh melambung, tim bertahan punya waktu lebih untuk melihat dan memperkirakan ke mana dan kapan bola akan mendarat.

Pressing yang dilakukan Barcelona di atas, merupakan sebuah pressing terstruktur. Mereka bergerak sesuai zona kosong dan pergerakan pemain lawan serta di mana posisi reka terdekatnya. Selain pressing terstruktur, ada pressing lainnya, yang dipicu oleh insting/naluri, seperti yang sempat saya singgung di atas, Pressing berdasarkan naluri biasanya banyak dilakukan, bila, si pelaku pressing melihat ada peluang bagus untuk merebut bola secepatnya.

“the best moment to win the ball is immediately after your team just lost it. The opponent is still looking for orientation where to pass the ball.” – Jurgen Klopp –

Saat terbaik merebut bola kembali adalah pada saat tim anda kehilangan bola. Lawan masih mencari ke mana orientasi umpan akan dilakukan. Teori Klopp ini merupakan bagian dari filosofi gegenpressing versinya, yang mana high block pressing merupakan salah satu variannya. Salah satu contoh paling terkenal dari gegenpressing dengan high block pressing-nya, adalah, partai menghadapi Arsenal pada tahun 2013 di Highbury.

gegenpressing
Gegenpressing. Pressing cepat, yang dilakukan secara naluriah, oleh pemain 11 dan 9, menjadi awal gol.

Pressing yang dilakukan secara naluriah, tidaklah sesederhana yang terlihat. Pressing seperti ini, mengharuskan pemain memiliki konsentrasi dan pemahaman yang baik di antara mereka. Pressing seperti ini merupakan jenis pressing yang tidak terencana, yang jelas memiliki lebih banyak potensi tak terduga di baliknya. Sebuah pernyataan Jurgen Klopp soal pressing sangat tepat mewakili pressing yang dilakukan secara naluriah.

“ you cannot train it as a tactical measure. You can’t tell the players: ‘you stand here and if this happens, you run there’. Instead, you have to train the impulse. It has to be an impulse to move into a ball-winning position immediately after losing the ball. You don’t teach a situation; you teach the impulse until it becomes a natural action.” – Jurgen Klopp –

Intinya, yang dikatakan Klopp, adalah, yang harus dilatih adalah detaknya. Detak yang menggerakan seorang pemain untuk bergerak ke posisi di mana bola sangat mungkin dimenangkan, sesegera mungkin setelah kehilangan bola. Klopp berkata lagi, dengan melatih detak tersebut diharapkan akan menjadi kebiasaan alami. Dan, ini semua, sesuai dengan prinsip yang mendasari pressing yang dilakukan secara naluriah. Detak alami yang menjadi bagian dari diri si pemain, yang menggerakannya untuk berpindah posisi dan menekan lawan.

Dengan lakukan pressing, anda harus pastikan, tim anda sedang lakukan kontrol ruang yang tepat. Dengan lakukan kontrol ruang, sebuah tim mampu mengarahkan ke mana permainan dijalankan. Yang perlu ditekankan, adalah, kontrol ruang tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi, kecerdasan pemain dalam kaitannya terhadap pemahaman taktik dan ruang adalah krusial. Pemahaman yang akan menuntun pemain ke sebuah level di mana mereka mampu bermain dalam banyak variasi permainan, posisi, dan peran. Dan, pressing atau kontrol ruang, termasuk di dalamnya.

@ryantang_

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s